quote linkedin dugout

Berita Klub

Video 1 Galeri

Bedah taktik: Karakter tim juara

TOP SPOT: City players celebrate Sterling's winner

TOP SPOT: City players celebrate Sterling's winner

Mimin yang tak lekang oleh waktu @HanifThamrin membedah lebih dalam apa arti kemenangan 1-0 City atas Feyenoord di Liga Champions…

Faktor Fantasista

Tiga puluh satu menit.

Itulah waktu yang dibutuhkan oleh City untuk bisa melepaskan tembakan ke arah gawang dari DALAM kotak penalti Feyenoord – itupun lewat sundulan lemah Aguero yang menerima umpan lambung Kevin De Bruyne. Sebelum sundulan itu terjadi, peluang yang dibuat City hanya tercipta lewat tembakan dari luar kotak penalti, meskipun menguasai lebih dari 70% penguasaan bola.

Mengapa laga terkunci begitu lama?

Pertama, Pep membuat tujuh perubahan dalam starting XI yang tampil melawan Leicester. Hanya Ederson, Walker, De Bruyne, dan Sterling yang tetap dipasang – sementara itu Aguero kembali dipercaya memimpin lini serang pasca diistirahatkan di laga melawan the Foxes, ia juga menyandang ban kapten.

Kedua, City bermain tidak seperti biasanya. Ini merupakan laga tengah pekan, ditambah mayoritas pemain City yang juga tampil membela timnas masing-masing seminggu lalu, ini menjadi pertarungan ketahanan fisik – itulah kenapa Pep membuat begitu banyak perubahan dalam skuatnya.

Ketiga, karena El Mago tidak berada di dalam lapangan.

Mudah sekali mengecilkan pentingnya peran David Silva di tubuh City ditengah kegemilangan penampilan De Bruyne, Sane, Sterling, Aguero dan Jesus. Mungkin itu juga yang terjadi ketika ia tidak masuk lagi dalam PFA Team of the Year semenjak tahun 2012. Anda membutuhkan laga seperti saat City menjamu Feyenoord untuk merasakan betapa pentingnya keberadaan Silva agar sepakbola khas City kembali berdetak.

David Silva memberikan satu hal yang tidak dimiliki oleh pemain lainnya: imajinasi. Saat bola berada di kakinya, ada rasa ketidak pastian di kubu lawan – karena mereka tidak bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Ia adalah seorang Fantasista sejati, tak perlu membawa bola bagi seorang David Silva untuk membuka kunci pertandingan, pergerakan tanpa bolanya pun acap kali membuka ruang bagi pemain depan merengsek maju dan memanfaatkan peluang. Tanpa David Silva, City tidak dominan di lini tengah – itulah sebabnya skuat City banyak mengkonsentrasikan serangan di sektor sayap. Danilo dan Walker kerap maju melebar hingga diujung lapangan lawan – sesuatu yang jarang terjadi di beberapa laga sebelumnya saat David Silva ada di lapangan.

Terlepas dari itu, skuat City menunjukkan satu hal: karakter tim juara. Karena ciri khas tim juara adalah mampu tetap menang meski tidak tampil maksimal.

GUNDO: Ilkay in action

Reaksi di masa sulit

“Saya ingin melihat reaksi pemain saya. Saat mereka tampil di posisi yang bukan posisi natural mereka,” itulah pernyataan Guardiola dalam sesi konferensi pers jelang laga kontra Feyenoord – ia berpegang teguh pada pernyataannya.

City tidak punya skuat besar pada musim ini, selain karena inflasi di bursa transfer – Pep juga tidak suka bekerja dengan skuat yang terlalu besar, dengan demikian ia bisa memberikan kesempatan bermain yang rata kepada seluruh pemain dan ruang untuk pemain akademi berkembang.

Di laga ini kita melihat semuanya: Danilo tampil sebagai bek kiri, Gundogan dimainkan sebagai gelandang serang (menggantikan peran Silva) di babak pertama dan jadi holding midfielder mengisi peran Yaya yang ditarik keluar di babak kedua, Gabriel Jesus yang masuk di babak kedua dipasang sebagai penyerang sayap kiri, terakhir Bernardo memainkan 3 posisi di laga ini – penyerang sayap kanan di babak pertama, penyerang sayap kiri di babak kedua, dan gelandang tengah kanan saat Jesus masuk ke lapangan.

Seluruh pemain City melakukan pengorbanan yang diperlukan karena mereka paham bahwa kepentingan tim diatas segalanya. Beberapa hari yang lalu saat tim media City merangkum rubrik ‘Apa kata media’ yang berisi rumor bahwa Guardiola mengincar Mahrez – saya bertanya-tanya: dimana lagi ruang untuknya jika ia datang? Laga kontra Feyenoord menjawab pertanyaan saya – terlepas dari berita ini hanya rumor ataupun sebuah kebenaran.

City hanya punya dua orang sayap murni di dalam tim (Sane dan Sterling), bahkan saat melihat Raz dipasang di posisi no.10 bersama timnas Inggris saya merasa ia akan jauh lebih hebat jika dimainkan di posisi itu. Bernardo bukanlah seorang sayap murni – dan ketika City menjalani laga seperti saat melawan Feyenoord dimana Pep harus mengistirahatkan salah satu pemain sayapnya, dibutuhkan sosok sayap murni yang punya kecepatan dan skill untuk menusuk ke dalam. Bernardo lebih cocok dimainkan di posisi no.10 atau pengganti jangka panjang di posisi David Silva saat ini. Terbukti – Sterling-lah yang membuka kunci pertandingan ini dengan mencetak gol semata wayang memanfaatkan kecepatan dan pergerakan tusukan ke dalam kotak penalti yang ia miliki. Jadi mendatangkan satu lagi penyerang sayap murni bersama satu bek kiri di bursa transfer musim dingin bukanlah opsi yang buruk.

STERLING FINISH: Raheem bags the winner as City secure top spot

Debut bocah Stockport

Ketika laga memasuki menit ke-75 antara City v Feyenoord, skor masih sama kuat 0-0 – lalu Yaya menoleh ke area bench, ia melihat papan pergantian yang menunjukkan nomor punggungnya.

Masuklah seorang bocah berusia 17 tahun kelahiran Stockport menggantikan salah satu legenda City tersebut.

Ia bernama Phil Foden, dari kecil ia memimpikan dirinya bisa mengenakan seragam biru langit City, dan berselang beberapa minggu setelah dirinya menjuarai Piala Dunia U17 bersama Inggris – ia mewujudkan mimpinya, lebih spesial lagi itu terjadi di Liga Champions.

Guardiola memasukkan Foden saat laga masih imbang – bukan ketika City unggul 3-0. Itu menandakan satu hal: Pep percaya kepada kualitasnya, ia tidak dimasukkan hanya karena tiga poin sudah di tangan atau karena laga sudah tidak lagi menentukan, tapi ia dimasukkan untuk merubah keadaan!

EURO DELIGHT: Foden became the youngest player in City's history to play in the Champions League

Foden tidak punya fisik mumpuni seperti Yaya – tapi kekurangannya ia tutupi dengan kegigihan dan skill yang luar biasa. Ia masuk sebagai gelandang tengah kiri – ia tampil taktis dan tenang di sisa laga, ia menunjukkan bahwa secara taktik ia cukup matang dan paham peran yang harus ia mainkan.

Yaya menepuk tangan Foden saat digantikan – satu gambar yang menjelaskan segalanya: seorang legenda City berusia 34 tahun memberikan tongkat estafet kepada seorang bocah asli Stockport berusia 17 tahun yang akan segera membangun mimpinya di Etihad.

Berita Klub

Bedah taktik: Alasan City begitu dominan

Berita Klub

Nobar City minggu ini: Leicester!

STERLING JOB: Raheem celebrates scoring his ninth goal of the season.

Kami rangkum 39 kota di seluruh Indonesia yang menggelar nonton bareng laga #dukungcityvleicester untuk Anda!

Nobar City minggu ini: Leicester!

Berita Klub

Cityzens Giving segera kembali

Fans Manchester City akan mendapatkan kesempatan untuk merubah hidup komunitasnya di seluruh dunia – saat Cityzens Giving kembali untuk tahun keempat beruntun.

Cityzens Giving segera kembali