Kemenangan dramatis atas Southampton menjadi yang ke-19 beruntun pada musim ini bagi City di segala kompetisi. @HanifThamrin menganalisa hasil positif ini dari sisi taktik…

Angin sepakbola negatif Premier League

Premier League sudah berubah. Kini, hasil adalah segalanya bagi setiap tim di Premier Lague. Manajer tidak punya keistimewaan berupa waktu ekstra ketika hasil positif tak kunjung hadir dalam tim mereka. Diawali oleh Frank De Boer, lalu disusul Craig Shakespare, berikutnya Ronald Koeman, Slaven Bilic, dan terakhir Tony Pullis yang menjadi korban pemecatan oleh klub masing-masing karena hasil positif tak kunjung diraih.

Hal ini memberikan efek domino kepada pola permainan di laga-laga Premier League: semakin banyak tim-tim yang memainkan sepakbola negatif.

Melihat tim tamu menerapkan strategi parkir bus saat mereka berkunjung ke Etihad bukanlah hal yang baru. Nyaris setiap City bermain di kandang setiap lawan pasti menerapkannya, musim lalu hanya Tottenham Hotspur yang berani memainkan gaya mereka di Etihad, musim ini baru Liverpool – dan kita tahu apa yang terjadi, tim Merseyside itu dipermak lima gol tanpa balas.

Tapi satu hal mulai bergeser pada musim ini: Lawan-lawan City juga bermain bertahan saat mereka tampil di kandang sendiri!

PROBING: Kevin De Bruyne looks for an opening in Southampton's resolute defence.

Bournemouth, West Brom, Leicester, dan Huddersfield menerapkannya di kandang mereka – alhasil City hanya mampu menang dengan margin maksimal satu atau dua gol menghadapi tim yang menumpuk sepuluh pemain mereka di kotak penalti sendiri.

Tetapi yang paling mengherankan adalah sang juara bertahan Chelsea juga melakukannya di Stamford Bridge – kandang kebanggaan mereka. Ironis mengingat tim Antonio Conte berada di urutan kedua termahal untuk urusan harga tiket musiman tahun ini, dengan kata lain pendukung mereka membayar nyaris 12,5 juta rupiah untuk satu musim laga kandang hanya untuk menyaksikan tim mereka bertahan – salut! Ini kontras dengan #Sharkteam yang berada di urutan ke-18 di Premier League untuk soal harga tiket musiman, harga yang pantas mengingat sepakbola yang diperlihatkan skuat Guardiola.

Dengan bertambahnya koleksi kemenangan beruntun City menjadi 19 – jangan harap angin sepakbola negatif ini akan berubah, kini seluruh tim yang menghadapi City hanya punya satu misi: setidaknya meraih satu poin. Jadi ke depannya calon lawan City akan menerapkan apa yang diterapkan oleh Huddersfield, Southampton dan Chelsea, termasuk laga derby 10 Desember nanti di Old Trafford…

ON THE PROWL: Gabriel Jesus goes close to adding a second for City.

Roket, roket, roket!

Ketika lawan menumpuk 10 pemain di kotak penalti mereka, apa yang bisa dilakukan? Salah satu cara mendobraknya adalah dengan melepas tembakan jarak jauh.

Aspek ini meningkat pesat di tubuh #Sharkteam semenjak musim ini, hingga saat ini ada lebih dari lima gol yang sudah tercipta lewat tembakan jarak jauh atau tembakan dari luar kotak penalti.

Teranyar tentunya gol penentu kemenangan City atas Southampton yang dibuat oleh Sterling dengan sebuah tembakan melengkung yang indah. Sebelumnya – Kevin De Bruyne yang melakukannya sebanyak tiga kali! Yaitu ke gawang Leicester, Arsenal dan Chelsea. Berperan lebih sebagai gelandang tengah musim ini, membuat porsi gol yang diciptakan KDB lebih banyak dari luar kotak penalti. Terakhir tentu jangan lupakan gol roket jarak jauh Fernandinho ke gawang West Brom.

Guardiola paham betul saat laga terkunci, senjata tembakan jarak jauh menjadi salah satu alternatif yang ia miliki, dan ia tidak kekurangan amunisi dalam hal ini karena De Bruyne. Fernandinho, David Silva, Sterling dan Fabian Delph selalu bisa diandalkan dalam urusan tembakan roket jarak jauh. Oleh karena itu beberapa sesi latihan City khusus dilakukan untuk mengasah aspek ini.