Kevin Keegan

Kevin Keegan kembali ke jajaran manajemen klub pada tahun 2001 di Maine Road sebagai manajer City. Kedatangannya membuat fans sungguh bergembira karena di musim sebelumnya City terdegradasi.

Kehadiran Keegan langsung membawa City promosi kembali ke Liga Primer, dan mendatangkan talenta seperti Eyal Berkovic, bahkan Stuart Pearce dan Ali Benarbia didatangkan secara gratis.

The Blues menggila di Championship, meraih gelar juara dengan torehan gol sebanyak 108 dan menyuguhkan permainan sepakbola cantik.

Berikut cuplikan organisasi permainan yang disuguhkan anak asuhan Keegan saat melawan Watford…


Di masa itu manajer lain tidak akan berani mengambil resiko memainkan dua playmaker sekaligus, Keegan memainkan Berkovic dan Benarbia bersamaan.

Musim pertama City kembali ke Liga Primer mereka menempati posisi sembilan dan dianugrahi gelar Fair Play Eropa.

Musim 2003/04 menjadi musim yang sulit bagi sang manajer karena City terancam degradasi hingga minggu-minggu terakhir kompetisi. Keegan akhirnya berhenti pada bulan Maret 2005 setelah merasa tak bisa lagi memotivasi para pemainnya, tetapi pengabdiannya selalu dikenang oleh penggemar City.

Kennedy, Mark

Sayap Irlandia Mark Kennedy datang ke City dengan bandrol £2 juta dari Wimbledon dengan hasrat untuk membuktikan dirinya. Ia tidak bersinar saat membela Liverpool dan Wimbledon, tetapi Joe Royle berhasil membuat Kennedy kembali ke performa puncaknya.

Ia adalah pemain penting yang membawa City promosi di tahun 2000.

Ia gagal melanjutkan performa gemilangnya di Liga Primer, ada anggapan kala itu jika Kennedy tak bermain baik maka City pun bermain buruk secara keseluruhan. Semua berujung kepada kembalinya City terdegradasi ke Divisi Satu.

Pada tahun 2001, Kennedy dijual ke Wolves seharga £2 juta. Total ia membuat 77 penampilan bagi the Blues dan mencetak 11 gol.

Stand Kippax 

Menjadi rumah bagi ribuan fans City sejak 1923, teras yang sangat terkenal ini selalu menjadi pemain ke-12 bagi the Blues.

35 tahun tanpa lindungan atap, klub memutuskan memasang penutup diatas teras tersebut dan secara resmi dinamakan Stand Kippax.

Mustahil mengitung berapa banyak fans City yang berdiri di teras tersebut, tetapi diperkirakan mencapai jutaan. Laporan Taylor yang didukung oleh pemerintah menginvestigasi tingkat keamanan area berdiri tersebut dan merekomendasikan untuk diganti menjadi area duduk, hal ini secara resmi menjadi akhir dari teras Stand Kippax.

Suporter City memberikan penghormatan terakhir pada stand berdiri favorit mereka pada tanggal 30 April 1994 ketika melawan Chelsea. Beberapa hari kemudian tim penghancur datang dan meruntuhkannya. Setelah itu muncullah Kippax yang baru, dengan design tiga tingkat dan penonton tidak lagi berdiri.

Kinkladze, Gio

Francis Lee adalah orang yang mendalangi kepindahan Gio Kinkladze seharga £2 juta dari Dynamo Tbilisi. Tak banyak informasi tentang pemain berusia 21 tahun tersebut, tetapi Lee yakin ia akan menjadi bintang bagi the Blues.

Segera setelah Ball diangkat sebagai manajer, ia menyatakan kepada para fans bahwa mata mereka akan terbelalak melihat permainan Kinkladze.

Ball terbukti benar, ia adalah pemain yang membuat penonton berdiri dari kursi mereka karena kemampuan dribel dan operan jitunya. 

Setiap gol yang diciptakannya tak bisa dilupakan dan gol solo-nya melawan Southampton dengan melewati lima pemain sebelum bola di-chip melewati Dave Beasant dinilai sebagai gol terindah yang pernah diciptakan oleh pemain City.

‘Kinky’ demikian ia dijuluki, tak mampu menyelamatkan the Blues dari degradasi ketika hasil seri 2-2 atas Liverpool melempar mereka ke Divisi Satu.

Kendati selalu dihubungkan akan pindah ke Liverpool dan Barcelona seharga £10 juta, ia bertahan di City selama dua musim berikutnya dan membawa City kembali ke Liga Primer.

Kedatangan Joe Royle menjadi akhir dari karir Kinkladze, setelah 121 penampilan dan mencetak 22 gol ia dijual ke Ajax.

Serial alfabet kami akan berlanjut esok hari, tentu anda bisa menebak huruf berikutnya adalah ā€˜L’.

berikan saran anda untuk huruf ā€˜L’ ke @MCFCIndonesian !