Apa yang belum kita ketahui dari bek muda timnas Inggris ini?

Pendidikan Martinez

Pep Guardiola dan Roberto Martinez sering disebut berasal dari sekolah kepelatihan yang sama, Martinez membawa permainan bertumpu kepada operan yang menghibur dan timnya mencoba meniru permainan hebat Barcelona dan Bayern Munich asuhan Pep.

Stones tiga tahun berada di bawah Martinez bersama Everton yang berarti pengalaman tersebut bisa mempersiapkannya untuk beradaptasi di klub barunya bersama Guardiola.

Martinez kerap mendukung Stones selama masih sama-sama membela Everton.

Pada September 2015 ia mengatakan: “Ia luar biasa saat bersama bola – saya belum melihat pemain asli Inggris yang memiliki kemampuan membangun permainan sebaik dia di posisinya – ia juga bisa diandalkan dalam situasi satu lawan satu, ia sangat bagus dalam duel udara, dan punya kemampuan membaca permainannya sungguh fantastis, ia juga punya kemampuan beradaptasi bermain dengan partner yang berbeda dengan hebat.

“Sebagai pemain, karakter ini menggambarkan dirinya: sangat tenang, selalu siap dan memiliki potensi yang unik.”

Serba bisa

Stones mengawali karirnya di posisi bek kanan bagi Barnsley dan meskipun mayoritas ia bermain sebagai bek tengah di Goodison Park, dia selalu mampu membantu tim diposisi manapun ia ditempatkan.

“Saya tidak akan pernah menolak bermain sebagai bek kanan karena semakin banyak posisi yang bisa Anda mainkan maka semakin baik untuk diri Anda dan tim Anda. Saya suka bermain sebagai bek tengah tetapi tidak akan menolak ditempatkan sebagai bek kanan karena itu merupakan pengalaman yang hebat untuk dirasakan,” katanya.

Pujian dari Pique

Bermain di jantung pertahanan FC Barcelona dalam dekade terbaik berarti Gerard Pique tahu jika ia melihat seorang pemain bertahan yang bagus. Itulah kenapa sang bek Spanyol itu memilih Stones dalam “World XI’ versinya pada bulan November lalu.

Pique berkata: “Menjadi bek tengah tidak hanya tentng bertahan atau menjadi keras dan kotor. Juga tentang memahami bagaimana cara bermain sepakbola, mengontrol bola, mengumpan dan nyaman dalam menguasai bola.

“Ini adalah sesuatu yang tidak dimengerti di tahan Inggris 10 tahun lalu, tetapi kini ada Stones. Ia adalah generasi baru yang mengerti sepakbola sebagai seorang pemain bertahan.”

Panenka

Ketengangan Stones barangkali diperlihatkan lewat eksekusi penaltinya dengan cara panenka melawan Juventus hanya berselang beberapa bulan setelah mengawali karirnya di Everton.

Meskipun hanya laga pra-musim, tetapi sebagai pemain berusia 19 tahun untuk langsung maju dan mengeksekusi penalti setelah Andrea Pirlo gagal, dengan cara dingin seperti Panenka, butuh kepercayaan diri yang luar biasa dari seorang bek.

Stones menjelaskan bahwa penalti tersebut mencerminkan gaya bermainnya: “Itu bukan sesuatu yang arogan atau sombong. Itu murni untuk menghibur semua orang dan bagi saya untuk menunjukkan bahwa saya percaya diri tetapi tidak besar kepala.”

Suka meniru

Sisi humor Stones selalu dikenang di klub pertamanya Barnsley dimana ia dikenal sebagai seorang yang mahir dalam meniru karakter.

Mantan striker Barnsley Chris Dagnall mengatakan: “Ia bisa meniru gaya jalan dan cara setiap orang berbicara.

“Ia paling mahir dalam menirukan manajer kami, Keith Hill. John akan meniru cara ia bergerak…pelan-pelan seakan-akan ia berada di sepatu sang manajer.”

Ronnie Branson, kepala akademi Barnsley ketika Stones berada disana mengingat: “Saya tidak pernah memergoki ia meniru saya, tetapi terkadang saya datang dan memberi team talk dan para pemain tertawa karena John mulai meniru saya.”

Media sosial

Sang bek tengah Inggris tidak terlalu banyak menggunakan media sosial, tetapi ia punya akun Instagram menjelang turnamen Piala Eropa dimulai. Anda bisa mengikutinya di @johnstonesofficial.