Mimin @ManCityIndo menganalisa performa anak asuh Guardiola ketika menumbangkan Arsenal di Etihad...
Kemenangan yang diraih City saat mengalahkan Arsenal merupakan buah dari Determinasi tiada henti pasukan Pep Guardiola sepanjang laga.
Fleksibilitas formasi
Pep kembali dengan formasi 4-1-4-1 dan memasang false nine seperti saat melawan Watford tengah pekan lalu. Kali ini Kevin De Bruyne yang memikul tanggung jawab tersebut.
Pemain Belgia tersebut ditopang Sterling, Silva, Yaya dan Sane di lini kedua. Sementara Fernando berada tepat di belakang empat pemain tersebut sebagai poros penyambung, walaupun pada kenyataannya ia dan Yaya saling silih berganti menjaga pos ketiga tersebut.
City merubah formasinya menjadi 4-4-2 saat bertahan, menggeser De Bruyne ke sayap kiri dan meninggalkan Silva serta Sterling di depan serta Yaya turun sejajar dengan Fernando.
Sementara saat menyerang City cenderung mendorong Silva, Sane dan Silva untuk maju sejajar dengan De Bruyne serta dalam formasi 2-1-3-4 bahkan 2-4-4 dimana Fernando turut di plot sebagai gelandang serang.
Di pihak lain, Arsenal kembali tampil dengan formasi andalan mereka 4-3-2-1 dengan Alexis dan Ozil sebagai motor serangan di lini depan dan double pivot Coquelin dan Xhaka untuk menahan serangan the Blues.
Seperti di laga sebelumnya, City yang mengambil inisiatif serangan di awal babak. Tusukan Sane dari sisi kiri pertahanan Arsenal mampu menghasilkan umpan silang ke kotak penalti, sayangnya Sterling yang dituju telat menyambut sehingga bola berhasil dihalau bek Arsenal dan jatuh di kaki Alexis Sanchez - disinilah awal terjadinya gol pertama Arsenal.
Alexis yang melihat ruang kosong diantara Zabaleta dan Otamendi dengan jeli melepas umpan yang mampu diselesaikan Walcott dan membuat Arsenal unggul dalam 5 menit.
Skema ini berulang kali kita saksikan di beberapa laga City belakangan ini. Hanya kali ini, Jarak antara Otamendi dan Zabaleta terlalu jauh sehingga Walcott mampu berlari dengan leluasa diantara keduanya.
Gol pertama Arsenal tercipta terlihat Alexis yang berlari menyilang di belakang Fernando membuat dirinya luput dari perhatian, Sementara itu Yaya yang telat turun tidak mampu menutup gerak Walcott membuat kedua pemain tersebut cenderung ‘menonton’ bola.
Sterling dan Silva rajin bertukar posisi di tengah sementara Sane dan De Bruyne cenderung tinggal di kedua sayap. Skema ini terus berlangsung hingga babak pertama berakhir.
Mengembalikan De Bruyne ke posisi no.10
Babak kedua terjadi beberapa perubahan skema dari Pep. Sagna masuk menggantikan Zabaleta dan Sterling yang di babak pertama lebih banyak beroperasi di tengah digeser ke depan Sagna untuk lebih meneror sisi kanan yang dijaga Monreal.
Digesernya Sterling otomatis membuat De Bruyne kembali ditempatkan ke posisi no.10 bersama dengan Silva.
Laga baru berjalan dua menit, Sane mampu mencetak gol pertamanya bagi klub. Diawali intersep Fernando di lapangan tengah, Silva mampu mengirim bola kepada lambung kepada Sane yang tinggal berhadapan dengan Cech dan membuat skor menjadi imbang.
Tanpa mengecilkan peran Sterling dan Sane yang mencetak kedua gol City, peran De Bruyne di kedua gol juga patut mendapat perhatian.
De Bruyne yang berlari keluar mampu membuat Bellerin dan Gabriel sedikit kebingungan, situasi ini dimanfaatkan Sane untuk berlari diantara keduanya untuk selanjutnya mencetak gol penyeimbang di laga ini.
Sementara itu pada gol kedua City, De Bruyne dengan cerdik mampu mengirim umpan tarik kepada Sterling di sisi seberang hingga akhirnya tercipta gol penentu kemenangan City.
Pemain Belgia ini memiliki andil di hampir seluruh peluang City termasuk sundulan Sterling di babak pertama dan sepakan jarak dekat Sane yang mampu di hadang Cech memasuki satu jam pertandingan.
Begitupun di menit ke 76 saat tembakannya meneruskan umpan silang Navas hanya menerpa tiang. De Bruyne yang berlari ke kotak penalti tiba-tiba berganti arah meninggalkan Gabriel yang terlanjur bergerak ke sayap kanan dan membuat De Bruyne tak terkawal di kotak penalti.
Tajamnya para gelandang
Terlepas kebobolan di menit awal, Blues mampu memberikan tekanan tiada henti ke pertahanan Arsenal. Penguasaan bola di babak pertama yang mencapai 67% membuktikan dominasi City di laga ini.
Peran Fernando dan Yaya di lini tengah mampu merusak ritme permainan Arsenal. Beberapa kali serangan Arsenal mentah di kaki Xhaka dan Coquelin yang kalah dalam duel udara maupun bawah. Gol pertama City pun lahir dari usaha Fernando memotong laju bola dari Xhaka di lini tengah.
Pressing tinggi yang kerap kali menjadi senjata makan tuan bagi City tidak lagi nampak sejak lima menit awal babak pertama.
Zaba, Clichy dan Sagna disiplin dalam menjaga pertahanannya, tidak terlambat turun dan rajin membantu serangan. Begitupun Otamendi dan Kolarov yang koko sebagai tembok terakhir City.
Penyerang bayangan juga nampaknya akan menjadi opsi bagi pep untuk mengatasi absennya Aguero di lini depan. Alur serangan yang lebih beragam serta fleksibilitas posisi menjadi nilai tambah bagi Blues. Hal ini juga memaksa para gelandangnya untuk bisa mencetak gol yang dalam dua laga terbukti sangat efektif.