@HanifThamrin mencoba menganalisa taktik Pep Guardiola saat menghadapi Celtic di laga pamungkas Grup C Liga Champions…

4-3-3 siluman

Pep kembali ke formasi tradisional-nya dengan menurunkan 4-3-3 saat menjamu Celtic di matchday terakhir Grup C Liga Champions. Guardiola membuat beberapa perubahan dengan menggeser Sagna sebagai bek tengah, memainkan Zabaleta sebagai gelandang dan menggeser Sane ke sayap kiri.

Sekilas terlihat posisi Sane dan Nolito tumpang tindih – tetapi dalam kenyataannya ketika City menguasai bola, formasi 4-3-3 itu seketika berubah menjadi 3-3-4.

dengan

SILUMAN: Perubahan formasi City ketika menguasai bola - Maffeo maju jauh ke depan dan kerap berada di dalam kotak penalti Celtic. 

Nolito bermain lebih sebagai second striker dan Maffeo maju jauh sebagai penyerang sayap kanan. Taktik ini terbukti bekerja ketika Nolito mengirim assist sempurna kepada Iheanacho lewat umpan terobosan matang sebelum Kelechi mencetak gol berkelas.

Taktik ini pun menuntut kedua sayap bekerja lebih keras baik saat menyerang maupun bertahan, terbukti gol Celtic tercipta akibat serangan balik di sayap kanan. Sane gagal membuang bola, kesalahan yang berujung kepada gol Roberts.


sup

DUA SAYAP TURUN: Sane dan Maffeo harus menjadi full-back ketika City bertahan dan kehilangan bola. 

Sane dan Maffeo dituntut untuk turun berthahan menjadi bek ekstra yang menutup pemain sayap lawan di kedua sisi melakukan cut-inside atau melepas crossing, Sane gagal mengeliminasi bahaya dan gol pun terjadi. Barangkali itulah penyebab Pep masih butuh waktu menurunkannya secara reguler – karena Sane masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan modul ini dan memperbaiki sisi defensif dari permainannya.


Kenakan kacamata hitammu karena masa depan sungguh terang

Lima pemain City yang masih remaja tampil dari menit pertama di laga pamungkas Liga Champions Grup C antara City v Celtic.

Tosin Adarabioyo, Pablo Maffeo, Leroy Sane, Kelechi Iheanacho dan Patrick Roberts semuanya tampil sebagai pemain inti.

Kita semua sudah tahu betapa tajamnya Kelechi yang mencetak gol luar biasa di laga ini, tetapi adalah Patrick Roberts yang membuktikan kualitasnya kepada Pep dengan mencetak sebuah gol solo run dari sayap kanan – setelah melewati Clichy dan menempatkan tembakannya diantara kaki Adarabioyo sebelum menaklukkan Willy Caballero.

Belum lagi ada nama Angelino, Angus Gunn dan kejutan dari Phil Foden di bangku cadangan City malam itu.

Foden masih berusia 16 tahun dan berposisi sebagai gelandang. Ia sudah mencetak 8 gol di tim U18 dan menyita perhatian Pep sehingga membawanya di laga ini. Satu hal yang pasti – Akademi City terus melahirkan bibit berkualitas dan City sudah mulai memanennya!


Fleksibel menguntungkan untuk jangka panjang?

Setelah merubah posisi Aleksandar Kolarov dari bek kiri menjadi ball-playing defender dalam formasi tiga bek awal musim - lalu Bacary Sagna sebagai bek tengah dalam beberapa laga terakhir pasca cederanya Vincent Kompany, Pep kembali membuat kejutan dengan memainkan Pablo Zabaleta sebagai gelandang sentral dalam formasi tiga gelandang.

Pasca kedatangan pelatih Katalan itu, seluruh pemain City dituntut untuk mengembangkan permainan mereka – baik itu dengan memperkenalkan pemain tertentu di posisi baru, maupun menggeser sisi mereka.

Bahkan sudah 22 kali Pep mengganti susunan pertahanannya musim ini dan hampir tidak pernah menurunkan tiga atau empat bek sejajar yang sama dalam dua pertandingan beruntun. Ingat, Liga Primer Inggris tidak memiliki jeda musim dingin seperti kompetisi Eropa lain, ditambah jumlah pertandingan yang lebih banyak karena juga harus berkompetisi di Piala FA. Menarik untuk disimak apakah perubahan ini akan menguntungkan City di jangka panjang.