The Blues pulang dari King Power Stadium dengan skor 2-4, dan @bungkoes mencoba menganalisa asa yang berjalan salah di laga tersebut...
Malapetaka Bola Udara
Masih terbayang kekalahan pekan lalu melawan Chelsea dimana City yang terus menggempur harus menelan pil pahit lantaran harus rela gawangnya dibobol lewat serangan balik. Kali ini, ditempat dan lawan yang berbeda, kejadian yang hampir sama persis kembali terjadi.
Pada laga ini Pep kembali merubah susunan formasinya dari 3-2-4-1 pekan lalu menjadi 4-1-4-1. Barisan belakang kembali dihuni empat pemain sejajar dengan menggeser posisi Sagna ke tengah berpasangan dengan Stones. Full back tetap diisi oleh Kolarov dan Zabaleta di kedua sisi.
Fernando yang menggantikan peran Fernandinho akibat larangan bermain, bertugas sebagai poros penghubung antara bertahan dan menyerang. Sementara Gundogan yang bermain apik saat melawan Celtic didorong agak maju untuk menambah kreativitas lini serang. Dan Iheanacho bertugas sendirian di depan.
Sementara Leicester, tampil dengan menurunkan Slimani, Vardy dan Mahrez yang menonjol dalam hal kecepatan.
Laga baru berjalan dua menit kerja sama Mahrez-Slimani-Vardy mampu membuat Foxes unggul. Mahrez yang sejatinya berposisi di sayap kanan berlari menyilang ke tengah untuk kemudian memberi umpan Slimani yang dengan mudah menyodorkan bola diantara Stones dan Kolarov.
Di proses gol ini, Kolarov yang tertinggal setelah membuang bola tidak mampu mengikuti arah gerak Mahrez ke tengah dan Fernandinho yang sejatinya menjadi pelapis pertahanan juga telat memotong umpan. Hasilnya, Slimani mampu meneruskan bola diantara Kolarov dan Stones yang sudah mati langkah.
Foxes memanfaatkan momentum gol cepat dengan sangat baik. Dua menit berselang giliran King yang mampu menjebol gawang Bravo. Diawali lemparan kedalam Fusch ke kotak penalti yang gagal di sapu dengan sempurna oleh Zabaleta bola kemudian jatuh di kaki Slimani yang dengan cerdik mengirim bola ke King yang mampu diselesaikan tanpa ampun.
Kebingungan terjadi di kotak penalti City terutama saat Huth mencoba menyambut lemparan Fusch. Pergerakan Huth membuat peran Zabaleta dan Fernando saling tumpang tindih dan saat Zabaleta mampu memotong bola, Fernando yang persis berada di belakang Zabaleta tidak mampu bergerak bebas untuk menyambut sapuan. Sementara Stones yang jaraknya terlalu jauh dengan Slimani telat menutup pergerakan pemain Aljazair tersebut, Gundogan yang ada di barisan kedua pun tidak mampu berbuat banyak saat King melepas tembakan.
Peran Vardy juga cukup krusial di skema gol ini, Ia berdiri jauh di belakang pertahanan City saat lemparan kedalam dan membuat pertahanan lebih mundur kedalam sehingga posisi Slimani yang berdiri di titik penalti menjadi tidak terjangkau.
Beberapa kali pertahanan City juga terlihat gugup, terutama saat bermain bola-bola pendek di belakang. Bravo, Stones dan Sagna kerap kali lepas kendali saat pemain depan Leicester menerapkan pressing tinggi.
Gol ketiga lahir juga dari skema yang hampir sama; bola udara.
Kali ini Fusch yang lepas usai serangan dari City mampu melepas umpan lambung ke kaki Mahrez, yang dengan mudahnya melepas umpan ke Vardy sebelum ia mengecoh Bravo dan mencetak gol keduanya malam itu.
Kolarov yang turut membantu serangan meninggalkan Stones sendirian di jantung pertahanan. Mahrez yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemain Serbia tersebut bergerak bebas di sayap kanan sehingga Stones harus melapis tanggung jawabnya, sementara di belakangnya Vardy yang otomatis lepas dari kawalan juga gagal diantisipasi baik oleh Kolarov maupun Sagna.
Keputusan menggeser Sagna sebagai bek tengah terbukti harus dibayar mahal. Sagna yang alaminya menempati pos bek kanan, tidak bermain terlalu nyaman di pertandingan ini dan posisinya terlihat beberapa kali tidak sejajar dengan Stones.
Timpangnya barisan pertahanan
Solidnya pertahanan Leicester turut andil dalam kemenangan mereka di King Power Stadium. Delapan pemain di turut membantu pertahanan saat City coba membangun serangan dan menyisakan Vardy, Slimani serta Mahrez di depan yang berarti juga sebanding dengan jumlah pertahanan City saat mereka menyerang.
Beberapa kali serangan City dari sayap kandas di tangan Wes Morgan dan Robert Huth. Keunggulan mereka di duel udara menjadi salah satu alasan City gagal mengembangkan permainannya.
Terciptanya gol pertama dan kedua tidak lain berkat peran Huth di duel bola atas. Pun di menit ke-12, Huth yang menang bola atas di kotak penalti hampir kembali menjadi aktor terciptanya gol Leicester, beruntung sepakan Slimani hanya melambung tinggi diatas mistar gawang Bravo.
City yang unggul di bola bawah tidak mampu mengantisipasi skema ini.
Sementara di pihak City, pasangan Stones dan Sagna rasanya harus kembali diasah untuk membentuk unit yang solid. Cukup banya kesalahan sendiri yang dibuat di barisan pertahanan terutama pada gol keempat Leicester yang berawal dari umpan tidak sempurna Stones.
Kolarov dan Zabaleta yang menyisir kedua sisi terlihat positif saat membantu pertahanan namun terlihat kerepotan saat timnya harus menghadapi serangan balik.
Penguasaan bola dan peluang
Penguasaan bola City yang mencapai 70% di babak kedua menjadi bukti keperkasaan City di laga ini, namun sayang hal tersebut tidak berbanding lurus dengan peluang yang diciptakan.
Dari 19 percobaan hanya empat yang menemui sasaran dan dua diantaranya bersarang ke gawang.
De Bruyne menjadi motor serangan di babak pertama namun tidak banyak menemui sasaran, umpan dan tusukannya dari kedua sisi lebih sering kandas di kotak penalti.
Masuknya Yaya, Nolito serta Sterling di babak cukup membuat serangan lebih hidup. Beberapa kali pergerakan Nolito, Sterling dan Silva memaksa barisan belakang melanggarnya. Hasilnya tendangan bebas mampu dimaksimalkan oleh Kolarov untuk memperkecil ketertinggalan dan Nolito di penghujung babak kedua.
Konversi peluang masih menjadi pekerjaan rumah sampai saat ini, Pep kembali harus bekerja ekstra keras mencari jalan alternatif jika City ingin membawa pulang poin maksimal.