Mimin @ManCityIndo bang @HanifThamrin mencoba membandingkan kekuatan kedua arsitek terbaik di Premier League ini...
Ahli 3 bek v menemukan sepakbola kembali
Antonio Conte adalah ahlinya formasi tiga bek. Walter Mazzari boleh mengklaim bahwa ialah yang mempopulerkan formasi 3-5-2 kembali ke Liga Italia, tetapi adalah Conte yang mengangkatnya di level internasional. Pertama, formasi 3 bek-nya di Juventus berbeda dengan Mazzari karena ia memiliki Leonardo Bonucci di Juventus yang berperan sebagai Ball-Playing Defender – dan kini Bonucci adalah yang terbaik di posisinya. Patut dicatat pertama kali Bonucci ditugaskan di peran ini, ia kerap membuat blunder. Conte-lah yang menyulap Bonucci kini menjadi salah satu bek terbaik di dunia sehingga Pep menyebutnya sebagai ‘salah satu pemain favoritnya.’
Conte melakukan pekerjaan yang sama di Chelsea, hanya saja keberadaan Pedro dan Hazard membuatnya sedikit mengadaptasi formasi 3-5-2 favoritnya menjadi 3-4-3. Ia juga memperbaiki kelemahan David Luiz sehingga Chelsea tidak kebobolan di enam laga beruntun Premier League sebelum bertemu Tottenham.
Di lain pihak, Pep Guardiola ‘menemukan kembali sepakbola’. Ia mengembalikan total football ke tubuh Barcelona, dan istilah ‘menemukan kembali’ sepakbola tidaklah mengada-ada. Kenapa? Karena Pep selalu mencoba memperbaiki dirinya – dan selalu menemukan kembali taktik yang merevolusi sepakbola modern.
Pertama mahakarya-nya adalah strategi ‘false nine’ yang diperankan oleh Leo Messi. Kini, ia membuat mahakarya baru di City. Jika kita perhatikan, posisi dua full-back City bermain lebih ke dalam sebagai gelandang sentral ketika the Blues menguasai bola. Sehingga saat tim kehilangan bola, dua full-back itu menjadi ekstra gelandang yang menerapkan pressing tinggi untuk merebut bola kembali secepat mungkin. Jangan heran jika di setiap pertandingan City, penguasaan bola selalu bisa melebihi 65%.
Serangan balik v Menyerang total
Tim Conte selalu bertahan dengan lima bek dan dua sampai tiga gelandang, dan itu pula yang akan terjadi di Etihad nanti. Chelsea memiliki serangan balik berbahaya dalam dua sayap mereka yang punya kecepatan tinggi yakni Pedro dan Hazard.
Conte tidak pernah merubah line-up mereka semenjak kalah 3-0 atas Arsenal, dan sulit mengharapkan kejutan dari susunan pemain Chelsea di Etihad nanti. Diego Costa akan bermain di garis batas offside dan menjadi poin referensi Hazard-Pedro dalam menyelesaikan serangan balik cepat.
Sementara tim Pep tidak akan pernah bertahan – terutama di kandang. Setelah Conte ‘dihajar’ oleh Pep saat Juventus-nya bertemu Bayern Munich yang diasuh Pep di Liga Champions beberapa tahun yang lalu, kini Guardiola akan kembali mendominasi tim Conte – setidaknya dari sisi penguasaan bola.
Aguero pun menginjak performa terbaiknya jelang bentrok kedua tim, ini menjadi krusial karena pemenang akan ditentukan oleh siapa yang paling efektif dalam menuntaskan peluang.
Tidak ada alasan lagi
Kutipan paling populer dari Conte ketika di ujung masa baktinya bersama Juventus adalah “Anda tidak bisa pergi makan di restoran dengan uang 10 euro jika harga makanannya 100 euro,” sebuah sindiran bagi strategi belanja Juventus kala itu. Kini ia memiliki dukungan dana luar biasa dari Roman Abramovich dan belanja besar-besaran dengan mendatangkan N’golo Kante dan David Luiz. Conte tidak memiliki alasan lagi jika gagal karena ia sudah punya seluruh sumber daya untuk dimaksimalkan.
Demikian pula dengan Pep, kritikan klise yang selalu dialamatkan kepadanya adalah kesuksesannya hanya terjadi karena ia memilih klub super yakni Barcelona dan Bayern Munich. Kini Pep menangani Manchester City, hal pertama yang dilakukannya adalah menurunkan rataan usia pemain yang di musim lalu merupakan salah satu skuad dengan rataan usia tertua di Premier League.
Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah bagaimana ia merubah permainan City menjadi begitu penuh energi dan mengalir – terutama pressing tinggi yang diperlihatkan ketika tim kehilangan bola, dan itu semua dicapai hanya dalam hitungan tiga bulan Pep bergabung. Kini City berbagi angka yang sama dengan Liverpool di posisi dua dan hanya terpaut satu angka dari Chelsea di puncak – dan lolos ke 16 besar Liga Champions dan mengalahkan Barcelona. Sudah waktunya para pengritik Pep menutup mulut mereka.