City harus lebih ‘kejam’ di depan gawang jika ingin kembali ke jalur kemenangan…

Terlalu banyak peluang gol yang dibuang berujung kepada kehilangan tiga angka dalam laga terakhir the Blues, @HanifThamrin mencoba menganalisa poin-poin kunci laga City melawan Leicester…

Anomali

Terakhir kali kedua tim bertemu, Riyad Mahrez tampil luar biasa di Etihad dengan gol solo run-nya memanfaatkan serangan balik cepat menjebol gawang Joe Hart dengan begitu mudah. Laga itu adalah titik balik bagi skuad Ranieri musim lalu – setelah  mengalahkan City, Leicester seakan percaya bahwa mereka bisa menjuarai Premier League dan bertahan di pacuan hingga mampu membuat sebuah keajaiban.

Musim ini terbukti bahwa penampilan mereka hanyalah sebuah anomali. Leicester punya tim dengan kebersamaan dan chemistry yang pas di musim lalu – ditambah lagi status mereka sebagai non unggulan dan tidak berkompetisi di Eropa membuat fokus mereka sepenuhnya bisa ditujukan untuk Premier League.

Kini skuad Ranieri terpuruk di posisi 16 klasemen, kehilangan N’Golo Kante yang hijrah ke Chelsea membuat Ranieri kehilangan stabilitas lini tengah. Meski melaju ke babak 16 besar Liga Champions, Leicester tidak memiliki soliditas yang sama seperti ketika mereka tampil luar biasa pada musim lalu.

Sergio Aguero shields the ball

Ayo bangkit

Kedua tim meraih hasil yang kurang positif di awal bulan Desember ini. Setelah tidak terkalahkan selama bulan November, City mengawali bulan Desember dengan kekalahan atas rival Chelsea di kandang dan ditahan imbang Celtic di partai pamungkas Grup C Liga Champions. Secara tradisi, City selalu tampil bagus di bulan Desember, mari berharap the Blues mampu memperbaiki hasil laga – dimulai dari kunjungan ke King Power Stadium Sabtu (10/12) nanti.

Sementara itu hasil yang didapat Leicester di lima laga terakhir begitu buruk. Skuad Ranieri kalah atas Watford dan Sunderland dengan skor sama yakni 1-2 dan imbang melawan Boro 2-2. Terakhir, mengistirahatkan begitu banyak pemain inti – Leicester dipermak Porto lima gol tanpa balas.

Baik Pep maupun Ranieri tentu gatal untuk segera membawa anak asuhnya kembali ke jalur kemenangan – semoga dewi fortuna berpihak kepada City kali ini setelah di beberapa laga terkahir mistar gawang dan keputusan wasit seringkali mempengaruhi hasil pertandingan City.

Skuad yang segar

John Stones, Nicolas Otamendi, Aleksandar Kolarov, Claudio Bravo, Kevin De Bruyne, dan Raheem Sterling semuanya diistirahatkan oleh Pep ketika menjamu Celtic. Aguero dan Fernandinho tidak bisa tampil di King Power Stadium nanti akibat kartu merah yang mereka terima saat melawan Chelsea.

Itu berarti City menatap laga ini dengan skuad yang relatif bugar – ada juga beberapa kabar baik seperti kondisi Fabian Delph yang mulai pulih dan ketajaman Iheanacho yang mampu mengisi lubang yang ditinggalkan oleh Kun Aguero.

Kondisi serupa juga terjadi di kubu lawan dimana Robert Huth, Riyad Mahrez, Jamie Vardy, dan Islam Slimani tidak berangkat ke Portugal saat Leicester dibungkam lima gol oleh Porto tanpa balas.

Ranieri sengaja menyimpan pemain kuncinya agar bisa bugar ketika menjamu City dan ia mengakui setelah dipastikan lolos ke 16 besar UCL, memperbaiki posisi di Premier League adalah target utamanya.

Waspada serangan balik

Gaya sepakbola Pep seperti pisau bermata dua, menerapkan pressing tinggi di daerah lawan dan menyerang lawan bertubi-tubi. Tapi ketika skuad kehilangan bola dan intensitas pressing untuk merebut bola kembali secepat mungkin tidak bekerja sebagaimana mestinya – yang terjadi adalah the Blues kebobolan serangan balik cepat.

Chelsea mengeksploitasi potensi itu, mereka mencetak tiga gol dari tiga peluang yang mereka punya. Caranya? Lewat kecepatan serangan balik. Saat perangkap offside City runtuh, bek City gagal mengimbangi kecepatan Eden Hazard yang berujung pada gol ketiga.

Pertahanan City akan menjumpai ancaman serupa dalam diri Jamie Vardy. Kecepatan adalah aset utama Vardy, meskipun duetnya bersama Slimani belum padu, City tetap harus meredam potensi ancaman serangan balik cepat Leicester, caranya? Mengembalikan intensitas pressing ketika tim kehilangan bola.