@HanifThamrin mencoba membahas beberapa hal yang bisa kita petik dari kekalahan 3-1 atas Leicester City.

Perbedaan fisik…

Dari menit awal pertandingan dimulai, terlihat jelas Leicester berada dalam kondisi fisik yang lebih baik. The Foxes terus menerapkan pressing ketat, dan bertahan dengan sembilan pemain di belakang.

Ranieri sadar betul bagaimana City akan bermain di Etihad, menguasai bola dan menekan hingga ke daerah lawan. Dua full-back City (Kolarov dan Zabaleta) acap kali maju hingga ke sayap kanan pertahanan lawan, menyebabkan duet bek tengah the Blues maju hingga setengah lapangan.

Hal ini menyebabkan ada ruang besar yang bisa dimanfaatkan the Foxes lewat kecepatan Jamie Vardy, parahnya Demichelis maupun Otamendi tak bisa mengimbangi kecepatan topskor sementara Premier League itu.

Solusi rasional adalah menempatkan Sagna sebagai bek tengah untuk mengatasi ancaman Vardy, ia membuktikan bisa memainkan peran bek tengah dengan baik saat melawan Aston Villa, mungkin pertimbangan padatnya jadwal membuat Manuel menyimpan bek asal Prancis tersebut.

Joe Hart denies Daniel Drinkwater

Kalah di udara…

Satu lagi pelajaran penting yang bisa kita petik adalah, betapa kita membutuhkan bek berpostur tinggi dalam mengamankan situasi bola mati. Ranieri paham Manuel tak bisa memainkan Kompany dan Mangala yang secara postur sulit dikalahkan dalam duel udara. Kontras dari kedua nama itu, Demichelis dan Otamendi memiliki kekurangan dalam bola-bola atas.

Dua kali Demichelis gagal menjaga Robert Huth yang berujung kepada gol pertama dan ketiga Leicester. Parahnya satu-satunya pemain berpostur tinggi di starting XI yakni Yaya Toure, ditarik pada babak kedua.

Raheem Sterling crosses the ball

Krisis cedera berlanjut…

Menyambut laga ini, the Blues hanya memiliki 14 pemain senior di dalam tim untuk diandalkan. Bermain tiga hari sekali menambah berat situasi City karena tak banyak opsi yang bisa diambil Manuel Pellegrini.

Teranyar David Silva menjadi korban di laga ini, cedera engkelnya kambuh. Cedera inilah yang membuatnya absen cukup lama di awal musim. Mungkin solusinya adalah dengan memberi kesempatan pemain muda seperti Kelechi Iheanacho dan Bersant Celina yang terbukti mampu menjawab kepercayaan saat diberi kesempatan.

Sergio Aguero shields the ball

Kalah di laga ini bukan berarti gelar melayang…

Masih ada sisa 13 pertandingan dan 39 poin untuk diperebutkan. Jangan lupa minggu depan Leicester bentrok kontra Arsenal. Pada musim 2012 dan 2014 kita menghadapi situasi yang sama, tetapi percayalah City punya satu hal yang bisa menjadi perbedaan dalam perburuan gelar: pengalaman.

Leicester dan Tottenham tak punya faktor itu, Arsenal sudah terlalu lama semenjak terakhir menjuarai Premier League. Enam angka bukanlah jarak yang tak bisa dikejar, dan beberapa pemain kunci seperti Vincent Kompany akan kembali minggu depan. Kita harus tetap percaya bahwa ini akan menjadi musim yang spesial bagi the Blues.