Kali ini @HanifThamrin sedikit keluar dari aspek taktik murni dan membahas beberapa hal yang tidak kalah pentingnya di luar lapangan…

City menangkan pertarungan mental

Ketika sebuah tim terus menang – mereka akan menjadi musuh bersama. Itulah yang terjadi kepada City, tak perlu menjadi jenius untuk merasakan ‘sentimen’ itu kini berkembang pesat diantara para rival the Blues.

Ada satu pertarungan yang wajib dimenangkan oleh City di luar lapangan: pertarungan mental – dan #Sharkteam tampaknya telah memenangkannya, atau setidaknya menahan gelombang serangan mental pertama.

Setelah derbi panas kontra United, yang penuh dengan ‘serangan mental’ – dimana anak asuh Guardiola dikritik Mourinho karena merayakan kemenangan mereka di ruang ganti, Wenger kemudian seolah berpihak kepada manajer Portugis itu dengan melontarkan analogi olahraga sumo yang tak merayakan kemenangan mereka saat menang.

Dengan segala hormat – Mourinho merayakan kemenangannya di El Clasico secara berlebihan di depan pendukung Barca, dan kini ia keberatan saat City merayakannya di ruang ganti?

Mourinho memberi julukan Wenger ‘spesialis gagal’ dua musim yang lalu – senang sekali melihat penampilan anak asuh Guardiola mampu membuat kedua manajer rival ini menjadi akur dan sependapat – memang sepakbola indah bisa menyatukan perbedaan.

Sayang ada budaya tidak gentle yang berkembang dewasa ini – saat sebuah tim kalah, mereka mencoba mencari alasan. Mourinho berkata bahwa City menang karena beruntung, mayoritas netizen berpendapat City menang karena ‘assist’ dari Lukaku, baiklah – coba kita lihat dari perspektif berikut:

ON THE BALL: Sergio Agüero holds off Swansea's Tom Carroll in the middle of the park.

Pertama, City mendominasi 80% penguasaan bola di Old Trafford – kandang lawan. Stadion dengan julukan theatre of dreams – sebuah lapangan yang dulu terkenal dengan sepakbola atraktifnya, dan kini sudah menjadi sepakbola long ball. City mendominasi disana, bermain seperti di lapangan mereka sendiri, dan secara konsisten memperlihatkan sepakbola yang sama seperti saat melawan Chelsea di kandang mereka maupun mencukur Liverpool di Etihad. Sekali lagi – tak sekalipun kami gagal mendominasi lawan di 15 pertandingan yang kami menangkan secara beruntun, tak sekalipun.

Kedua, Lukaku tidak memberi assist kepada siapapun – ia setengah mati membantu timnya bertahan. Pernahkah Anda melihat Cristiano Ronaldo turun melakukan marking saat tendangan bebas atau sepak pojok di Madrid? Tahukah Anda apa yang dikatakan Balotelli ketika Rodgers menyuruhnya ikut bertahan saat sepak pojok ketika pertama kali bergabung ke Liverpool? “Bos, saya tidak mau menjaga lawan saat sepak pojok – itu bukan tugas saya,” itu kata Super Mario.

Lukaku berjibaku membuang bola mati City, ia tak akan melakukannya jika Mou tidak memintanya, ia menelan egonya dan berkorban untuk tim. Jadi tidak, Lukaku tidak membantu City sedikitpun – hanya saja anak asuh Guardiola yang terlalu kuat untuk United.

HISTORY BOYS: Pep Guardiola and David Silva celebrate City's record-breaking 15th consecutive league win.

Terlepas dari tekanan dari sesi konferensi pers para manajer lain dan reaksi netizen, skuat City tetap fokus dan menuntaskan kemenangan ‘rutin’ atas Swansea dengan skor 4-0 tiga hari berselang. Tim lain bisa saja lengah setelah merayakan kemenangan derbi, tapi #Sharkteam langsung bersiap menyambut laga berikutnya – karena gelar juara jauh lebih penting ketimbang tiga angka di laga derbi, dan untuk alasan ini skuat Guardiola semakin matang dari sisi mental.

 

Lord Ederson dan supersub

Salah satu elemen penting dari tim juara adalah kiper tangguh. Chelsea dulu punya Cech, United punya Schmeichel, Madrid punya Casillas, Bayern punya Neuer, dan City kini sudah menemukannya dalam sosok Ederson.

Setelah membuat dua penyelamatan gemilang kontra United – Ederson kembali mengulanginya dengan dua penyelamatan super di Liberty Stadium. John Terry pernah bilang: “Cech adalah jaminan 10-12 poin dalam tim,” dan ekstra 10-12 poin itu bisa sangat menentukan dalam persaingan gelar juara. Dalam diri Ederson kini City menemukan stabilitas, itu membuat siapapun pasangan bek tengah yang tampil di depan Ederson memiliki rasa ‘aman’ – karena keduanya tahu jika sampai pertahanan mereka tembus, ada seorang kiper hebat yang akan menyelamatkan situasi.

 THREE IN THREE: The Spaniard celebrates another December goal.

Elemen yang tak kalah penting dari sebuah tim juara adalah keberadaan supersub. Pemain yang tidak selalu mendapat menit bermain, tapi ketika ia dipanggil – ia bisa merubah jalannya pertandingan atau membuat gol-gol penting. Dalam tubuh City, kini muncul banyak supersub di setiap lini. Saat Anda tidak mungkin bermain setiap tiga hari sekali – Bernardo Silva, Danilo dan Mangala masuk ke dalam tim dan permainan City tidak berubah sedikitpun. Bahkan keberadaan ketiga pemain ini terkadang bisa merubah jalannya pertandingan.