quote feed-section sponsor-promos cf show linkedin dugout

Berita Tim Utama

Video 1 Galeri

Bedah Taktik: Gelandang ekstra dan simalakama

DELIGHT: Ilkay Gundogan celebrates putting City a goal to the good.

DELIGHT: Ilkay Gundogan celebrates putting City a goal to the good.

Apa yang menjadi pembeda di laga City melawan Spurs? @RasyidMCFC mencoba menggalinya...

Sang pembeda

Tak bisa dipungkiri, Tottenham adalah tim yang secara taktik paling bisa mengimbangi permainan City. Tim besutan Mauricio Pochettino memiliki gaya yang serupa dengan Guardiola - menyerang, pressing tinggi, dan membangun permainan dari belakang. Dalam skema seperti ini, distribusi adalah kunci, pemain pertama pegang peranan krusial untuk memastikan bola mengalir dengan sempurna. Dan Ederson ada di sana untuk memastikannya.

Seperti yang sudah di bahas di bedah taktik sebelumnya, City akhirnya menemukan ikon di bawah mistar. Ederson adalah sosok yang tepat untuk skema yang diterapkan Guardiola - punya refleks cepat dan skill olah bola yang di atas rata-rata. Di usia semuda itu, kepercayaan dirinyalah yang mungkin paling menonjol. Kerap kali kita melihatnya keluar dari sarang untuk memotong bola, atau ikut ke tengah lapangan untuk bermain satu-dua, bahkan tak ada kepanikan yang nampak saat ditekan lawan.

PINPOINT: Ilkay Gundogan's header nestles in the bottom corner.

Inilah yang menjadi pembeda saat City menjamu Spurs akhir pekan lalu. Ederson bisa menjadi bumerang bagi lawan, saat tertekan, ia menjelma menjadi senjata rahasia dengan bola di kakinya. Seperti peluang Sergio Aguero selang delapan detik dari serangan Spurs, Ederson mengontrol bola dan mengawali serangan kilat dengan umpan terukurnya kepada Gundogan. Statistik pun berbicara, Ederson sukses melakukan 26 operan, lebih tinggi ketimbang Eriksen (24) dan Alli (17).

Dengan keberadaannya, City bukan hanya punya kiper handal, tapi juga punya satu ekstra gelandang.

Simalakama

Bermain dengan dengan pressing tinggi dan tempo cepat adalah karakter Mauricio Pochettino sejak ia menukangi Espanyol. Cara ini berhasil membuat Real Madrid dan Borussia Dortmund garuk-garuk kepala di babak grup Liga Champions. Dan ia sadar, timnya tak bisa duduk bertahan jika tidak ingin menjadi bulan-bulanan the Blues, keluar menyerang adalah opsi cerdas sekaligus mematikan.

ON THE PROWL: Leroy Sané looks for an opening.

Namun, menghadapi tim yang terlalu nyaman menguasai bola dan memiliki segudang pengumpan terukur, anak asuh Pochettino justru seperti menggali kuburan sendiri. Memanfaatkan tingginya pertahanan Spurs, Guardiola memutarbalik permainan dengan bola-bola lambung. Malam itu, City melepas 57 umpan lambung, 13 kali lebih banyak dari biasa ia terapkan di tiap laga. Strategi ini berjalan sukses seiring dengan berlimpahnya pengoper jitu seperti Ilkay Gundogan, Fernandinho, Kevin De Bruyne bahkan Ederson, yang beberapa kali menunjukkan akurasinya saat dikepung Harry Kane, Dele Alli dan Son Heung Min. Celah yang ditinggalkan oleh pemain Spurs yang naik menekan pun menjadi santapan empuk bagi lini depan City, gol ketiga berawal dari ruang yang ditinggalkan Trippier dan dimanfaatkan oleh aksi individu brilian Kevin De Bruyne.

Untuk saat ini, rasanya mustahil untuk mematahkan dominasi City. Apapun strateginya, duduk bertahan ataupun keluar menyerang hasilnya akan sama buruknya, sama seperti memakan buah simalakama.

PEP WATCH: Look what the opener meant to the boss!