@HanifThamrin melihat ada perubahan tren permainan di tim-tim Liga Inggris pada musim ini, dan mungkin hal ini akan berdampak besar terhadap masa depan Liga Inggris.

Kehilangan daya tarik

Hilang sudah hari-hari dimana Liga Inggris menyuguhkan sepakbola atraktif, menyerang, sehingga skor akhir sulit diprediksi sampai wasit meniup peluit akhir.

Hilang sudah kegigihan tim-tim papan tengah dan tim-tim papan bawah menumbangkan the big seven. Kini, nyaris setiap tim bahagia untuk tampil bertahan melawan City, menolak bermain sepakbola, dan legowo menerima kekalahan, yang penting mereka tidak diberondong lebih dari dua gol.

Ini sangat mengkhawatirkan, kenapa? Karena ini berpotensi berimbas terhadap daya tarik Liga Inggris secara keseluruhan. Nyaris satu dekade terakhir pamor Liga Inggris menjadi nomor satu karena faktor entertainment yang disuguhkan, bahwa setiap tim di Liga Primer bisa saling mengalahkan.

Dua musim lalu City tak bisa memprediksi hasil jika bertandang ke Stoke. Kini setiap tim yang menghadapi anak asuh Pep tidak hanya parkir bis di Etihad – tapi juga di kandang mereka sendiri. Ini membuat Liga Primer tidak lagi menarik untuk disimak, bayangkan Anda menonton laga sepakbola yang berisi tim bertahan semua.

Newcastle United adalah tim teranyar yang menumpuk seluruh pemainnya di depan gawang sendiri saat menjamu City – di kandang kebanggaan mereka.

Seni sepakbola pragmatis bukanlah sesuatu yang salah, bahkan ada banyak tim yang menjadi juara dengan cara ini. Tetapi jika nyaris 13 tim bermain dengan cara bertahan menghadapi tim-tim papan atas – dipastikan akan berdampak terhadap daya tarik Liga Inggris.

Jamie Carragher menyebut perubahan tren gaya bermain ini membuat liga Inggris menjadi “Liga lelucon” – sebuah pernyataan yang cukup keras dari seorang mantan pemain bertahan yang seharusnya mendewakan sepakbola bertahan. Itu membuktikan bahwa tren ini memang menjadi kekhawatiran banyak pihak.

Premier League memiliki nilai komersil yang sangat tinggi. Itulah kenapa tim yang terdegradasi akan menerima uang pembagian hak siar TV jauh melebihi tim yang menjuarai Liga Italia, Liga Jerman, Liga Spanyol, bahkan Liga Champions.

Itulah mengapa inflasi terjadi dalam bursa transfer yang melibatkan tim-tim Inggris. Mereka harus membayar harga 2 hingga 3 kali lipat dari harga normal pasar, dan jika Liga Inggris kehilangan daya tariknya, otomatis uang sponsor akan berkurang dan bintang-bintang terbaik tidak akan lagi merumput di Inggris.

Jadi untuk alasan ini, mari berharap Liga Inggris kembali ke wajah aslinya.

MIDFIELD MAESTRO: Ilkay Gundogan orchestrates proceedings in the middle of the park.

Persaingan sehat

Jika bermain di tim lain, tak mungkin nama-nama seperti Ilkay Gundogan, Danilo, Bernardo Silva atau Gabriel Jesus tidak berada di kertas line up setiap minggu. Begitu tingginya kualitas kedalaman skuat City menjadi masalah positif yang harus diatasi Guardiola setiap minggunya.

Tapi disinilah letak kematangan sosok Guardiola. Di musim keduanya – ia telah beradaptasi secara sempurna di Liga Inggris. Ia paham betul kapan periode sulit, padat, intens dan krusial dalam kalender sepakbola Inggris. Kini ia tahu kapan harus menyimpan atau mengeluarkan kartunya.

Terlepas dari beberapa pemain krusial yang mendapat cedera seperti Mendy, Stones, dan teranyar kapten Vincent Kompany kembali dirundung cedera – Guardiola mampu menciptakan persaingan sehat di dalam timnya. Para pemain yang jarang tampil selalu memberikan 110% saat kesempatan datang – sembari terus menjaga keharmonisan ruang ganti. Tak sekalipun ia mengkritik pemainnya di ruang publik, alih-alih ia selalu memberikan dukungan kepada skuatnya dan ini berujung kepada atmosfer kekeluargaan yang terjalin di skuat City. Atmosfer ini tentu berperan penting terhadap hasil-hasil yang diraih City.