Banyak jurus
Ini adalah pertarungan dua tim dengan konsep permainan yang berbasis kepada penguasaan bola. Hanya karena menjamu City – Pochettino tidak akan meninggalkan filosofi permainannya dan seketika memarkir bis di depan gawang seperti lawan-lawan lain, terbukti City hanya unggul selisih tipis dalam hal ini: 52% berbanding 48% untuk tuan rumah.
Ketika dua tim dengan karakter sama bertemu – dibutuhkan fleksibilitas dan jurus-jurus lain untuk membuka pertahanan lawan, dan itulah yang diperlihatkan City ketika gol pertama tercipta.
Alih-alih bermain umpan pendek dan cepat seperti biasa, City memainkan sepakbola direct dimana satu umpan panjang dari pertahanan sendiri yang dilepas Kompany mampu dikontrol secara sempurna oleh Gabriel Jesus dan menaklukkan Lloris seketika.
Davinson Sanchez dan kawan-kawan tidak menduga akan mendapatkan serangan dengan cara seperti ini, sehingga perangkap offside yang dipersiapkan tuan rumah hancur berantakan.
Kembali ke dasar
Setelah mencoba sedikit beradaptasi saat leg kedua kontra Liverpool, Pep kembali ke skema dasar 4-3-3. City tampil hidup dan keberadaan Delph di sisi kiri memberikan rasa nyaman karena memang Fabian sudah terbiasa tampil di posisi itu dibanding Laporte yang dicoba dalam kondisi krisis bek kiri saat Delph dan Mendy menderita cedera. Terlebih skema yang dimainkan Laporte adalah setengah full back yang sewaktu-waktu berganti menjadi bek tengah.
Pep juga mengembalikan komando lini bertahan ke kapten Vincent Kompany dan terlihat Laporte yang pemain kidal murni sangat nyaman bermain disampingnya, ketenangan Vinny akan membuat Laporte tumbuh dengan pasti – seperti Stones yang jauh lebih bagus di musim keduanya bersama City.
Terkadang disaat kita mendapati masa-masa sulit, back to basicadalah cara terbaik untuk melaluinya.
Satu langkah lagi
Tanpa melihat apa yang terjadi di laga United kontra West Brom, City punya laga penentu minggu depan kontra Swansea. Jika mampu menang, maka the Blues akan memastikan meraih gelar ganda pada musim ini.
Satu hal yang begitu mencolok pada kompetisi Premier Lague musim ini adalah dominasi City yang begitu jelas dibandingkan dengan tim lainnya. Ini menjadi awal untuk meletakkan dominasi selama tahun-tahun mendatang – karena konsistensi nyaris mustahil diraih di kompetisi Premier League. Ambil contoh Leicester yang merupakan jawara dua tahun lalu, musim berikutnya mereka tidak lolos ke Liga Champions. Hal yang sama terancam terulang kembali kepada Chelsea setelah mejadi juara musim lalu. Untuk itu City butuh dominasi di Inggris sebelum mengalihkan konsentrasi untuk menjadi jawara Eropa.
Lihatlah Jerman, Bayern Munich sudah menjadi juara di enam musim terakhir – tapi tak pernah menjuarai kompetisi Liga Champions dalam lima edisi terakhir. Begitu pula dengan Juve yang sedang dalam perjalanan mengejar gelar juara liga ke tujuh beruntun mereka, di Eropa hanya dua kali ke final dalam lima musim terakhir. Eropa masih didominasi oleh Madrid dan Barcelona – yang menjadi juara dalam empat musim terakhir ajang Liga Champions.
Untuk meruntuhkan dominasi Spanyol, City harus mendominasi Inggris terlebih dahulu. Pertama dengan cara mempertahankan gelar musim depan.