Trofi pertama di bawah komando Pep Guardiola telah diraih, bersiaplah untuk trofi-trofi lainnya! @HanifThamrin mengungkap faktornya disini…

Era Guardiola

Setelah beradaptasi dengan kultur sepakbola Inggris di musim pertamanya, Pep Guardiola resmi mempersembahkan trofi pertama bagi City di musim kedua dalam wujud Carabao Cup. Gelar ini menjadi pembuka gelar-gelar berikutnya yang akan datang ke Etihad Stadium. Pep telah memenangkan 9 dari total 10 partai final yang ia mainkan sebagai pelatih, itu membuat rataan kesuksesannya diatas 95% di partai final.

Mengingat posisi City yang nyaman memimpin dengan selisih 13 angka dan masih menyimpan satu laga ketimbang tim lainnya, bayangan anak asuh Guardiola mengangkat trofi Premier League di akhir musim nanti sangat mungkin untuk diwujudkan. Ditambah keunggulan empat gol tandang atas Basel yang membuat satu kaki the Blues telah dipijakkan di perempat final Liga Champions. Jika Pep memainkan kartunya dengan bijak, bukan tak mungkin the Blues akan membawa pulang tiga piala besar pada akhir musim ini – maksud saya tiga piala besar, bukan community shield.

 

Tongkat estafet

Tiga old guards City tampil sejak menit pertama pada laga pamungkas final Carabao Cup di Wembley. Vincent Kompany di lini belakang, David Silva di tengah dan Sergio Aguero di lini depan, mereka tahu persis apa artinya mengenakan seragam kebanggaan the Blues.

Kompany (31 tahun – 326 penampilan), David Silva (32 tahun – 337 penampilan), dan Sergio Aguero (29 tahun – 281 penampilan) telah menjadi pilar yang paham betul nilai-nilai fundamental yang selama ini diterapkan di komplek Etihad Campus. Ketiganya menjadi tonggak penyangga di masing-masing lini: Vinnie di belakang, El Mago di tengah dan Kun di depan.

Ketiga sosok ini yang akan meneruskan nilai-nilai dan mental juara kepada para pemain-pemain baru. Sisi kepemimpinan Stones meningkat drastis di musim keduanya, ia tampil lebih taktis, lebih efektif dan menjadi poin komunikasi kiper dan lini tengah. Keberadaan Vinnie di sebelahnya membuat Stones tumbuh dengan nyaman, dan Laporte juga akan mendapatkan benefit yang sama dari Vinnie, di masa depan keduanya akan menjadi pilar lini pertahanan City untuk bertahun-tahun ke depan.

Penampilan Kevin De Bruyne satu level diatas pemain lainnya di Premier League musim ini, perubahan posisi dan keberadaan David Silva menjadi salah satu faktor penunjang hal ini. Di musim pertamanya Kevin mengatakan: ‘Bermain disamping pemain seperti David Silva dan Aguero sungguh mudah,” dan El Mago juga terus menularkan pengalamannya kepada para pemain tengah anyar the Blues. Ilkay Gundogan semakin produktif dan Bernardo Silva semakin nyetel di penghujung musim ini.

Terakhir, Kun Aguero mungkin adalah nama yang akan selalu hidup di stadion Etihad. Berstatus pencetak gol terbanyak klub sepanjang masa dan menjadi penentu gelar liga di menit 93:20 – bahkan di ruang gym City Football Academy poster raksasa Aguero ditempel di satu dinding berukuran dua lantai untuk menginspirasi anak-anak akademi mengikuti jejaknya, bahwa betapa pentingnya berjuang hingga detik terakhir. Gabriel Jesus merasakan betul efek bermain bersama Kun, dan semua ini akan terus dilanjutkan oleh pemain-pemain muda atau pemain baru yang nanti akan datang.

Tiga old guards ini menjadi kunci dalam meneruskan nilai City untuk tetap menjadi klub pemenang, sesungguhnya sebuah klub menjadi besar karena konsistensi – bukan hanya karena sejarah di masa lalu, karena sepakbola adalah sekarang, bukan kemarin.

 

Sepakbola terbaik di planet bumi

“Kami memainkan salah satu sepakbola terbaik di planet ini,” itulah penggalan kalimat yang dilontarkan oleh Kevin De Bruyne setelah mengangkat trofi Carabao Cup – dan pendapat Kevin benar adanya.

Ada banyak cara untuk menang, bisa dengan cara pragmatis atau lewat sepakbola indah. Tapi tim yang bermain dengan sepakbola indah dan kemudian meraih trofi akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Seperti Ajax era Johan Cruyff dengan total football-nya, atau Barca versi Pep yang terkenal dengan tiki-taka – mayoritas pengamat bola dan pecinta sepakbola akan mengenang tim-tim itu dengan sebutan ‘tim terkuat dan terindah sepanjang sejarah sepakbola’.

Pep memilih cara kedua. Ia ingin membangun sesuatu yang akan dikenang 100 tahun ke depan, seperti apa yang disampaikan oleh Sheikh Mansour setelah membangun City Football Academy: ‘Kami ingin membangun struktur untuk masa depan, bukan hanya tim bertabur bintang’ – dan sepakbola indah yang dimainkan City hari ini adalah struktur yang dimaksud agar publik sepakbola mengasosiasikan sepakbola indah dan trofi juara dengan Manchester City hingga beberapa dekade ke depan.