quote feed-section sponsor-promos cf show linkedin dugout

Berita Tim Utama

Video 1 Galeri

Bedah Taktik: Peran besar Ariel Peterpan

Ada sesuatu yang tersirat di lagu Peterpan yang cocok dengan situasi City saat ini.

Ada yang masih ingat sebuah lagu berjudul 'Di atas normal' ciptaan band fenomenal Peterpan?

Kalau Anda ingat atau sempat merasakan aura Ariel Peterpan di masa jayanya tentu Anda akan sepakat dengan saya jika judul lagu yang satu ini cukup mendefinisikan kualitas permainan tim asuhan Pep Guardiola di antara tim-tim lainnya.

City hingga saat ini telah mengantongi 10 kemenangan dari 11 pertandingan tanpa kekalahan, memiliki jumlah kebobolan paling sedikit (4) dan yang paling mentereng adalah jumlah selisih gol City dengan dua tim di bawahnya; Liverpool 16, Chelsea 19, dan City 29 - walaupun pada titik ini musim lalu, City berhasil meraup selisih gol yang lebih superior (31) dan unggul delapan angka dari rival terdekatnya.

Namun fokusnya di sini adalah kualitas permainan City yang berada satu level di atas tim-tim lainnya dan konsistensinya dalam dua musim terakhir.

Korban terakhir adalah Southampton yang dicukur Sterling cs dengan skor 6-1.

Secara kualitas dan performa beberapa pekan belakangan ini, Southampton bisa dibilang bukan tim yang punya rekor mentereng, hanya berbekal satu kemenangan dari 10 pertandingan terakhir, tentu tidak mulia rasanya jika kita mengatakan ini adalah pencapaian yang fantastis.

STARS ON SUNDAY: Sergio Aguero celebrates with his team-mates after scoring City's second goal

Tapi, melihat hasil akhir mereka melawan dua rival terdekat kita, Chelsea dan Liverpool, Southampton 'hanya' kalah 3-0 di masing-masing pertandingan - artinya kemenangan City kali ini adalah gambaran kecil level kita dengan dua tim terdekat sekalipun.

Di laga malam itu, City mendominasi total jalannya pertandingan, bahkan belum genap memasuki menit ke-20 City sudah unggul tiga gol tanpa balas lewat gol bunuh diri Hoedt, Aguero, dan David Silva dengan statistik penguasaan bola 80:20 persen.

Sembilan pergantian yang dilakukan Pep Guardiola dari laga melawan Fulham cukup berdampak signifikan, duet Bernardo dan David Silva di lini tengah bisa jadi adalah yang terbaik sejauh ini di Premier League - khusus di laga melawan Saints, keduanya mengoleksi total 160 sentuhan, 124 operan dengan tingkat kesuksesan rata-rata sebesar 94% - David Silva bahkan pulang dengan sebiji gol.

Sergio Aguero di usia yang bisa dikategorikan tidak muda lagi justru berevolusi menjadi ujung tombak yang semakin menakutkan, torehan satu golnya malam itu menggenapi koleksi 150 golnya untuk klub, sekaligus semakin menancapkan namanya di puncak deretan penyerang tersubur Blues sepanjang masa.

Ditopang dua sayap lincah, tugas Aguero lebih banyak menarik lawan ke luar kotak agar Leroy dan Raheem bisa leluasa menusuk dari sayap dan mengirim bola ke lini kedua - persis seperti yang ditampilkan Aguero saat gol ketiga - dan kredit khusus pantas diberikan kepada Sterling yang malam itu tampil begitu trengginas dengan dua gol dan dua asisnya.

Pola serangan yang diterapkan melawan Southampton cukup unik dari segi taktik, Pep menumpuk lima pemain sejajar di depan kotak penalti lawan dengan sesekali menempatkan Aguero sebagai 'jangkar' di antara keempat pemain lain.

Penempatan Aguero ini bukan tanpa alasan, Aguero adalah sosok petarung dan memiliki fisik yang paling kuat ketimbang empat penyerang lainnya. Andai bola bergulir tak sesuai harapan, Aguero diharapkan jadi sosok yang bisa menyatukan kembali simpul yang tercerai-berai. Persis seperti apa yang ia terapkan saat gol pertama dan kedua City.

Superioritas City kian tak terbendung laga demi laga, komposisi dan kualitas yang merata di tiap lini membuat City sulit untuk ditaklukan. Bahkan Ian Wright pun mengamini pernyataan ini dengan mengatakan: "Saya tidak bisa melihat bagaimana caranya Anda bisa menghentikan City.

"Karena bagaimanapun cara Anda menekan mereka, mereka masih akan terus mencoba bermain dengan cara mereka dan mereka punya banyak pemain bagus." tutupnya.

Dengan kata lain, melawan City ibarat tugas yang mustahil dituntaskan - mereka terlalu bagus.

Lalu, apa resep dari ini semua? Tentu banyak faktor yang mempengaruhi performa sebuah tim, tapi satu yang pasti adalah Pep Guardiola punya persiapan dan rencana yang sangat matang dalam menghadapi setiap tim.

Setiap tim punya cara bermain yang berbeda, karena itu harus mereka harus diredam dengan cara yang unik pula. Semua yang telah ditanamkan Pep Guardiola sejak tiba di Etihad tiga tahun lalu mulai bisa kita tuai manfaatnya. Para pemain sudah punya gambaran besar seperti apa mereka harus bermain, mengalirkan bola, menekan lawan hingga mencetak gol. Apa yang mereka lakukan dengan kakinya semua datang dari persiapan yang panjang, bukan hanya dari satu dua-hari tapi dua-tiga tahun lamanya - semua yang mereka terapkan dengan kakinya berasal dari apa yang telah ditanamkan di kepala.

Mungkin simbiosis antara kaki dan kepala inilah yang dimaksud dalam penggalan lirik "Kaki di kepala, kepala di kaki." di lagu di atas normal. 

Dan ketika simbiosis sudah bersifat mutualisme, percayalah hanya permainan indah yang akan terpapar di lapangan.