Laporte melewatkan kesempatan untuk bergabung dengan City 18 bulan sebelumnya, merasa bahwa masih terlalu cepat meninggalkan tim asal Basque.
“Saya cedera, dan saya pikir itu bukanlah waktu yang tepat bagi saya untuk datang ke City,” kata Laporte.
“Cedera itu mempersulit beberapa hal tetapi saya tahu jika saya terus bekerja keras, kesempatan akan kembali datang karena City tahu potensi yang saya miliki. Saya tahu apa yang harus saya lakukan dan perbaiki.”
Ketika kesempatan kedua untuk bergabung ke City kembali datang, Laporte tidak ragu, ia bergabung di bulan Januari dan langsung membuat debut sehari setelahnya kontra West Brom.
Ia masih berusia 23 tahun saat bergabung dengan City, namun ia sudah memiliki segudang pengalaman dengan catatan 287 penampilan sepanjang karirnya.
Di musim ini, ia langsung menaikkan level permainannya.
“Saya menilai diri saya sebagai bek modern, bukan bek jaman dulu,” katanya.
“Saya mencoba berevolusi dengan perkembangan sepakbola tetapi sejujurnya saya menyukai membangun permainan dari belakang dan melepas umpan panjang.”
Tetapi ia juga merupakan perpaduan dari banyak gaya permainan.
Ada momen dimana ia terlihat seperti seorang bek tradisional Inggris saat menahan imbang Liverpool 0-0 dengan sapuan-sapuannya.
Penempatan waktunya sempurna, dan ia tampak begitu menikmati setiap momen di laga itu.
Laporte tampil tampa banyak omong, tanpa kompromi dan berkontribusi dalam mematikan trio paling menakutkan di Premier League sepajang laga: Firmino – Mane dan Salah, ketiganya tak mampu menembus pertahanan City.
Saat ditanya penampilan lini pertahannya di Anfield, Pep menjawab: “Luar biasa, dalam fase build-upmereka memiliki kecetapatan dan ritme serta mampu membaca siapa yang berada dalam posisi bebas. Secara defensif – kami sangat bagus karena tidak mudah ketika Liverpool selalu menekan bola.
“Mereka menyerang dengan banyak orangn serta mengganti sisi permainan, menekan dengan tinggi serta mengantisipasi bola panjang.
“Mereka (Stones dan Laporte) sangat bagus dan mereka masih sangat muda, tetapi mereka butuh pengalaman di laga seperti ini di panggung terbesar seperti Anfield melawan (mungkin) tiga striker paling berbahaya di dunia.
Distribusi bola dari Laporte juga begitu luar biasa.
Kemampuannya melepas long-ballsejauh 60 yard dengan akurasi luar biasa membuktikan bahwa Laporte tengah berkembang dari sisi percaya diri – ia juga begitu mengancam dari boa-bola mati, terbukti ia mencetak gol penyeimbang di Wolves.
Tidak masuknya Laporte dalam skuat timnas Prancis menjadi anomali bagi fans City.
Meski dibesarkan di Spanyol, berbicara bahasa Spanyol serta memainkan mayoritas karirnya di La Liga, Laporte memilih untuk membela Les Bleus.
Meski belum dipanggil untuk level timnas senior, ia tentu tidak jauh lagi dari pemanggilan timnas negara kelahirannya.
Selama ia belum dipanggil Prancis, Spanyol terus berharap mereka bisa membujuk Laporte untuk berbaju La Roja.
Jika itu terjadi, dipastikan ini menjadi hal yang akan disesali oleh Prancis untuk tahun-tahun mendatang.