Manuel Pellegrini datang ke kandang Leicester dengan satu tujuan: meraih tiga angka. Hal ini tampak jelas dari susunan pemain yang ditampilkan dari menit pertama.
Untuk pertama kalinya manajer asal Chile itu memainkan kuartet lini serang terbaiknya secara bersamaan setelah berbulan-bulan lamanya, karena salah satu diantara Sergio Aguero – David Silva – Raheem Sterling dan Kevin De Bruyne selalu ada yang tertimpa cedera.
Sebaliknya Claudio Ranieri sadar timnya sulit memetik tiga angka, oleh karena itu arsitek asal Italia itu meninggalkan modul 4-4-2 andalannya dan beralih ke formasi 4-5-1 dengan menumpuk lima gelandang di tengah.
Gokhan Inler dipasang sebagai jangkar ekstra sekaligus berperan sebagai deep lying playmaker di tubuh the Fox.
Peluang terbaik City di babak pertama datang dari Kevin De Bryne di menit ke-18. Tembakannya dari dalam kotak penalti berhasil ditepis Kasper Schmeichel dengan gemilang, sebelumnya Kevin menerima bola dari Sterling yang tampil gemilang di babak pertama.
Hal itu terbukti dari peluangnya di menit ke-27, winger timnas Inggris itu melepas tembakan voli setelah menerima umpan Sagna yang membuat Schmeichel lagi-lagi harus jatuh bangun menepisnya.
10 menit menjelang berakhirnya babak pertama, Leicester mendapatkan momentum mereka. The Fox menyerang bertubi-tubi dan mendapatkan dua kesempatan emas, beruntung duet Mangala-Otamendi masih sigap menghadang seluruh ancaman bagi gawang Joe Hart.
Satu menit berselang setelah turun minum, City mendapatkan peluang terbaiknya di laga ini lewat Sergio Aguero. Kevin De Bruyne melepas umpan silang mendatar yang disambut oleh striker timnas Argentina itu di depan mulut gawang Leicester, sayang sekali tembakan Kun malah melambung ke udara.
Pada menit ke-55 Sergio Aguero melancarkan protes keras kepada wasit karena pemain Leicester melakukan handball di kotak terlarang. Tayangan ulang jelas memperlihatkan hal tersebut, tetapi wasit menolak memberikan hadiah penalti kepada City.
Hal yang sama terulang di menit ke-62 ketika Aguero dijegal Gokhan Inler di kotak 16 pas, lagi-lagi wasit tidak mengacuhkannya. Betapa krusial dua insiden ini terhadap posisi the Blues di klasemen jika saja wasit memutuskan hal berbeda.
Secara umum tampak jelas skuad asuhan Ranieri membidik hasil seri di laga ini, sementara City berjuang untuk tiga angka hingga wasit membunyikan peluit akhir pertandingan.
Sayang, hingga 90 menit berakhir skor kacamata tidak berubah dan City menutup paruh pertama Premier League di posisi ketiga, berjarak tiga angka dari pimpinan klasemen Arsenal.