Memulai laga dengan formasi 4-2-3-1, Pellegrini menempatkan Aguero sebagai striker tunggal ditopang Silva, Yaya dan Sterling.
Satu hal yang begitu jelas terlihat di babak pertama adalah perbandingan kebugaran fisik kedua tim.
Hanya berkonsentrasi di Premier League membuat Leicester unggul kebugaran, mereka bertarung untuk setiap bola dari peluit awal dibunyikan wasit.
Claudio Ranieri datang ke Etihad dengan rencana jelas, yakni memanfaatkan serangan balik lewat kecepatan trio Vardy – Mahrez – Okazaki, dan mengeksploitasi situasi bola mati.
Dua gol Leicester tercipta lewat tendangan bebas, pertama di menit ke-3 menyambut umpan Mahrez. Robert Huth memenangkan duel dengan Demichelis untuk mencetak gol pertama Leicester.
Dua menit setelah turun minum the Foxes menghantam City lewat serangan balik cepat. Diawali Zabaleta yang kehilangan bola di sayap kanan, Mahrez dengan leluasa mengobrak abrik pertahanan City setelah melewati Otamendi dan Demichelis, dengan tenang ia membawa Leicester unggul 2-0 di menit ke-47.
Sungguh the Blues merindukan keberadaan Kompany dan Mangala, City sangat terekspos dalam duel udara dan Robert Huth kembali mencetak gol di menit ke-59 setelah unggul duel udara atas Demichelis.
Tertinggal dua gol Pellegrini bereaksi dengan memasukkan Fernando dan Kelechi menggantikan Yaya dan Delph. City berubah menjadi 4-4-2 tetapi kesulitan merubah skor karena Leicester bertahan sangat dalam dengan menumpuk sembilan pemain.
Kun Aguero membuat gol ke-13 dari 11 penampilan terakhirnya di menit ke-86 lewat sebuah sundulan cantik memanfaatkan umpan silang dari Zabaleta. City memperkecil ketertinggalan menjadi 1-3 tetapi sayang gol itu hanyalah gol hiburan semata.
City tertinggal enam angka dari puncak klasemen dan harus berjuang keras menutup jarak untuk menjaga harapan juara Premier League terus terbuka musim ini.