Manchester City mengalahkan Leicester City lewat adu penalti di perempat final Carabao Cup usai bermain imbang 1-1 di waktu normal.

Apa yang terjadi?

City mengawali laga dengan mentereng dan unggul di menit ke-14 lewat Kevin De Bruyne yang melewati Hamza Choudbury sebelum melepas tendangan keras dari jarak 20 yards.

Leicester yang belum pernah kebobolan di Carabao Cup musim ini tampak kewalahan. Riyad Mahrez dan Brahim Diaz mengancam beberapa saat kemudian namun upayanya tidak membuat Ward kesulitan.

Di awal babak kedua, Sergio Aguero yang kembali dari cedera pangkal paha, berhadapan satu lawan satu melawan kiper namun tendangan pemain Argentina ini berhasil ditepis Ward, dan usaha Mahrez tak lama berselang hanya melambung tipis di atas mistar sang kiper.

Namun, Leicester memberikan kejutan di menit ke-73 setelah umpan Wilfred Ndidi berhasil disambut Mark Albrighton dengan sepakan keras yang tak bisa dihadang Muric.

Mahrez, Gabriel Jesus dan Phil Foden bergantian mendapat peluang walaupun belum berbuah hasil.

Pertandingan kemudian harus ditentukan lewat adu penalti - dan City sekali lagi kembali keluar sebagai pemenang.

Christian Fuchs adalah pemain pertama yang gagal, sebelum Muric berhasil meredam tendangan James Maddison dan Caglar Soyunchu.

Zinchenko memastikan kemenangan 3-1 dan menjaga asa untuk memenangkan EFL Cup keempat dalam enam musim terakhir.

Pemain terbaik: Kevin De Bruyne

Gelandang Belgia ini bermain apik selama 70 menit dan menyajikan penampilan berkelas usai cedera pangkal paha.

Garcia juga patut mendapat apresiasi atas ketenangannya di lini belakang.

Faktor KDB

Penampilan kita saat De Bruyne menepi begitu luar biasa, namun tak diragukan lagi kita kehilangan kegemilangannya.

Umpan, tendangan, kerja keras baik menyerang maupun bertahan... ia adalah gelandang paling komplet di sepak bola Inggris.

King Kev telah kembali.

Filosofi Pep telah mendarah daging

Delapan perubahan dari laga melawan Everton, debut pemain berusia 17 tahun, Eric Garcia dan susunan tim yang rata-rata berusia 23 tahun.

Ide Pep Guardiola begitu tertanam di benak pemain, sehingga siapapun yang bermain, gaya dan prinsip bermainnya tetap sama.

Aliran operan, pergerakan, kebebasan dan hasrat untuk menyerang. Ini adalah cetak biru sepak bola kami.

Selanjutnya

Kita kembali ke Premier League untuk menjamu Crystal Palace sebelum kembali ke King Power Stadium pada Boxing Day.