City bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Leicester City 3-1 - kemenangan Liga Primer ke-250 kami dekade ini.

Gol cungkilan Jamie Vardy membuat tim tamu memimpin, tetapi gol dari Riyad Mahrez, Ilkay Gundogan dan Gabriel Jesus memastikan kemenangan bagi tim Pep Guardiola.

 

APA YANG TERJADI

 

Peluang besar pertama jatuh kepada Kevin De Bruyne, yang tembakan kerasnya dari tepi kotak penalti mengenai bagian luar tiang gawang.

 

Itu adalah pertanda atas apa yang akan datang, dengan City memegang kendali penuh di awal-awal pertandingan.

 

Beberapa saat kemudian Gabriel Jesus nyaris mencetak gol dari jarak dekat setelah kecemerlangan Riyad Mahrez di sisi kanan dengan mengatasi tiga pemain belakang Leicester - tetapi Kasper Schmeichel merespon dengan cepat untuk melakukan penyelamatan yang bagus.

 

Namun, Leicester tetap menjadi ancaman besar dalam serangan balik dan dengan Vardy mereka memiliki senjata yang mematikan. Satu umpan - dilepaskan oleh Harvey Barnes - mengalahkan garis pertahanan City yang sedang naik ke depan, Vardy berlari dengan bebas dan mencungkil bola melewati Ederson yang berlari menyergap.

 

Gol bagus melawan laju permainan.

 

City menyamakan kedudukan ketika Mahrez, yang bermain brilan sejak peluit awal berbunyi memotong dari sisi kanan dan melepaskan tembakan yang dibelokkan Caglar Soyuncu kea rah berlawanan dari Schmeichel.

 

Dan tepat sebelum jeda, kami unggul ketika Sterling mendapat penalti setelah dijatuhkan di dalam kotak penalti oleh Ricardo Pereira. Ilkay Gundogan menuntaskannya dengan luar biasa, menendang rendah ke kiri Schmeichel, dan kami akhirnya mendapat keunggulan yang layak kami terima.

 

Babak kedua memperlihatkan pola permainan yang sama, dan Mahrez hampir memperlebar keunggulan kami pada dua kesempatan, tetapi tendangan voli kaki kirinya sedikit melebar dan tendangannya yang melengkung berhasil diselamatkan dengan gemilang oleh kiper The Foxes.

 

Kami frustrasi dalam upaya kami untuk menciptakan gol ketiga, tetapi kecemerlangan De Bruyne membuat kami mendapatkannya. Dia menerima bola, melewati Soyuncu dan melepaskan umpan sempurna ke tiang jauh sehingga Jesus dapat memanfaatkan bola.

 

Itu kemudian menjadi pertunjukan Kevin De Bruyne, dengan sang pemain Belgia yang mengatur semua momen terbaik kami. Dia sendiri bisa saja mencetak gol, tetapi upayanya melayang di atas mistar.

 

Performa bagus dari City, yang kini hanya tertinggal satu poin dari Leicester yang duduk di peringkat kedua.

 

 

MAN OF THE MATCH: KEVIN DE BRUYNE

 

Pengaruh De Bruyne di tim ini tidak bisa diremehkan. Setiap kali dia mendapatkan bola, sesuatu yang signifikan terjadi.

 

Para penonton menyanyikan namanya di babak kedua, seperti kontribusinya untuk kemenangan ini. Dia mendorong City ke depan, memainkan bola-bola pendek sempurna ke dalam kotak dan memiliki jangkauan umpan terbaik di Liga Primer.

 

Dia adalah gelandang yang lengkap.

 

Perlu disebutkan secara khusus juga untuk Mahrez yang terus menerus menjadi ancaman. Kakinya yang cepat memperdaya lawan, dan gaya bermainnya yang lugas menawarkan ancaman yang berbahaya dari City.

 

ZONA STATISTIK

 

De Bruyne kini telah mencatatkan 10 assist di Liga Primer musim ini – lebih banyak tiga daripada pemain lainnya.

 

Dia telah terlibat langsung dalam 20 gol di Liga Primer pada 2019 (tujuh gol dan 13 assist), yang paling banyak dari gelandang manapun tahun ini.

 

 

APA ARTINYA

 

City telah memperpendek jarak poin dengan Liecester ynag berada di peringkat kedua. Itu akan menyenangkan Guardiola, yang baru-baru ini menantang timnya untuk menggulung The Foxes sebelum bahkan berpikir untuk mencoba mengejar Liverpool yang memimpin di klasemen.

 

The Merseysiders, yang pertandingannya melawan West Ham ditunda karena keterlibatan di Piala Dunia Antar Klub, tetap unggul 10 poin di puncak dengan keunggulan satu pertandingan tersisa.

 

APA BERIKUTNYA?

 

Dalam periode enam pertandingan dalam 18 hari, masih tersisa dua pertandingan lagi.

 

Selanjutnya, dua laga dalam waktu kurang dari 48 jam: Tandang melawan Wolves, yang tentu saja bukan tugas yang mudah, diikuti oleh kunjungan Sheffield United pada 29 Desember.

 

Pemilihan pemain untuk kedua pertandingan tersebut kemungkinan akan sangat berbeda karena Guardiola berupaya memanfaatkan sumber dayanya sebaik mungkin. Ini adalah jadwal yang menantang - beberapa orang mengatakan akan sangat melelahkan - tetapi, mengambil kata-kata sang bos, "itu adalah apa adanya".