Kita akan menjalani pertandingan final Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub, dan akan menjadi final Eropa pertama sejak 1970 tahun saat City menjadi juara Piala Winner dengan mengalahkan Górnik Zabrze.
2020/21 menjadi musim unik dan penuh tantangan dengan adanya pandemi global. Jadwal pertandingan setiap tiga hari dalam sepekan yang selalu menjadi kekhawatiran, namun justru membuat skuad City tampil penuh konsistensi dan menyatu secara tim.
Hasilnya gelar Liga Primer ketiga dalam empat tahun dan juga Piala Carabao keempat secara beruntun serta final Liga Champions pertama bagi kami.
TORRES YANG IMPRESIF
Tergabung dalam Grup C, City harus menghadapi Porto, Olympiakos dan juga Olympique Marseille.
Dominasi City di fase grup terpampang saat kami berhasil meraih 16 pin dari maksimal 18 dengan tanpa terkalahkan dan hanya sekali imbang.
Total 13 gol kami lesakkan dan hanya kebobolan satu gol. Tiga gol selalu berhasil kami ciptakan di masing-masing tiga laga awal fase grup secara beruntun.
Rekrutan musim panas kami, Ferran Torres tampil cemerlang di babak ini, selalu berhasil melesakkan gol di tiga pertandingan awal kami dan membuat satu gol lagi untuk menjadi top skor sementara kami bersama Riyad Mahrez dengan koleksi empat gol.
City yang diunggulkan keluar sebagai juara grup dengan Porto mengikuti di posisi kedua.
16 BESAR YANG NYAMAN
Dalam perjalanan kami musim ini City tidaklah tim yang mencetak banyak gol dalam satu pertandingan, namun kolektifitas dan penguasaan akan bola yang tinggi membuat City mampu mencetak gol dari berbagai cara dan pemain mana pun.
Itu terlihat saat anak asuhan Pep Guardiola memasuki fase gugur turnamen. Di babak 16 besar saat menghadapi wakil Jerman, Borussia Moenchengladbach, City berhasil menang dengan dua gol tanpa balas di kedua leg-nya.
Berkat permainan tim – yang mana juga City sering memakai false nine – empat pemain berbeda berhasil buat gol cantik dari kerjasama menawan. Dan satu gol tendangan keras Kevin De Bruyne adalah tontonan lain dari kemampuan individu bintang Belgia kami, sekaligus menandai 100 gol kami musim ini di semua kompetisi.
WAKTUNYA BINTANG MUDA
Jika ingin dan kami pikir layak dikatakan, bahwa penampilan City di perempat-final menjadi milik seorang anak muda asal Stockport, Phil Foden.
Raihan 16 golnya musim ini bagi City, menjadi salah satu pencetak gol terbanyak kami di musim yang luar biasa membuktikan ia dalam performa tajam di depan gawang.
Dan dua golnya ke gawang Dortmund di dua laga menjadi momen penegasan akan peran penting pemain berusia 20 tahun bagi City musim ini.
Gol penghujung laga di Etihad yang menjadi gol kemenangan membuatnya menjadi orang Inggris termuda yang mencetak gol kemenangan pada menit ke-90 dalam pertandingan Liga Champions (20 tahun dan 313 hari).
Dan gol tendangan kaki kiri indah dari luar kotak penalti yang dirayakan penuh suka cita oleh semua pemain City, manajer dan staf di pinggir lapangan menjadikannya pemain Inggris kelima yang mencetak gol di kedua leg perempat-final Liga Champions.
Pertahanan kokoh yang sudah terbukti sepanjang musim pun menjadi sorotan, dengan Ruben Dias Cs mampu mengatasi penyerang muda yang sedang mengkilap Erling Haaland.
Berusaha mengakhiri ‘kutukan’ perempat-final Eropa yang sering disematkan kepada kami, City menunjukkan mentalitas baja meski tim Jerman berhasil menyamakan kedudukan atau mencetak gol lebih dulu. Kebangkitan yang muncul dari keteguhan hati setiap pemain City.
YANG KEDUA DALAM SEJARAH KLUB
Mencapai empat besar Liga Champions, ini menjadi kesempatan kedua dalam sejarah kami. finalis tahun lalu, Paris Saint-Germain menjadi ujian berat selanjutnya.
Motivasi untuk bisa mengangkat ‘Si Kuping Besar’ untuk pertama kalinya membuat City bertarung sekuat tenaga melawan tim yang juga tampil menyerang dan penuh penguasaan bola.
Pada leg pertama saat kami kebobolan lebih dulu oleh sundulan Marquinhos, City tetap tenang dan menjalankan gaya bermain kami seperti biasa. Hasilnya, tendangan melengkung De Bruyne dan satu tendangan bebas indah Riyad Mahrez membungkus kemenangan penting di kandang lawan.
Riyad Mahrez benar-benar menunjukkan tajinya, pemain 30 tahun yang mengoleksi 13 gol di semua komptisi musim ini mencetak dua gol dari dua permainan tim yang ciamik dan bahkan melibatkan seorang Ederson!
ANGKA BERBICARA
Berbagai macam rekor dan catatan menarik muncul dalam perjalanan penuh warna City di Liga Champions musim ini.
City sendiri tak terkalahkan di kompetisi tahun ini. Rekor kami adalah M12, M11, S1, K0.
Total 25 gol telah kami buat oleh 10 pemain berbeda dalam tim dan hanya kebobolan 4 kali.
Kami juga menjadi tim Inggris pertama yang memenangkan 11 pertandingan dalam satu kampanye Piala Eropa / Liga Champions dengan memenangkan tujuh pertandingan Liga Champions terakhir kami, yang merupakan kemenangan terlama yang dijalankan oleh tim Inggris dalam sejarah Piala Eropa / Liga Champions.
Bagi beberapa pemain, musim ini juga menjadi musim menarik dari catatan yang mereka buat. Jika Phil Foden bermain sebagai starter di final, ia akanmenjadi pemain termuda ketiga Inggris yang bermain di laga puncak (21 tahun 1 hari).
Gelandang Portugal kami, Bernardo Silva, melewati 26 penampilan Liga Champions terakhirnya tanpa pernah kalah sejak terakhir City kalah 201 dari Lyon pada 2018.
Gelandang penggerak mesin permainan kami, Kevin De Bruyne, menjadi yang paling banyak terlibat dalam terciptanya gol bagi City dengan 3 gol dan 4 assist.
Pep akan berkesempatan untuk meraih trofi Liga Champions ketiganya setelah dua kali meraihnya bersama Barcelona pada 2009 dan 2011. Ia sendiri telah melakoni 135 pertandingan Liga Champions sebagai manajer dengan catatan 86 kemenangan dan 318 gol berhasil dicetak tim yang dilatihnya.
Tentunya, mimpi untuk bisa mengangkat trofi bergengsi Eropa akan jadi milik semua yang terkoneksi dengan klub. Pemilik, Presiden klub, para pemain , manajer dan tim pelatih, staf ruang belakang dan pastinya penggemar di seluruh dunia yang akan mendukung dari mana pun mereka berada. Mari kita wujudkan bersama!