Tim Pria

The Story of: Sang Juara Yang Terdegradasi

The Story of: Sang Juara Yang Terdegradasi
Apakah kamu tahu ada klub juara kasta tertinggi Inggris yang terdegradasi setelah menjadi juara di musim sebelumnya? Jika kamu belum tahu, jawabannya adalah ‘Ada’. Klub apa itu? Ya, itu adalah Manchester City… dan kita adalah satu-satunya.

Pastinya bukan kenangan manis untuk dielu-elukan, hanya kisah sedih yang tercatat dalam sejarah klub di sela kejayaan yang tercipta di masa lampau.

Tidak, bukan untuk meratapi apalagi membuat malu diri sendiri, tapi membagikan manis pahit perjalanan untuk membuat kita lebih mencintai klub dan menghargai apa yang kita miliki masa kini.

City di Musim 1937/38, ingatlah cerita ini.

CITY+ | DAFTAR UNTUK AKSES KONTEN EKSKLUSIF

Sebagai latar belakang, mari mundur ke beberapa bulan sebelumnya…

Menjadi juara untuk pertama kali dalam sejarah klub dan melihat rival sekota Manchester United terdegradasi, mungkin tak ada yang lebih membahagiakan bagi para fans City dari melihat hasil musim 1936/37.

Trio pencetak gol, Eric Brook, Alex Herd dan Peter Doherty serta kiper tangguh Frank Swift membawa City tak terkalahkan di paruh kedua musim sejak terakhir kalah oleh Grimsby Town di Christmas Day.

Anak asuhan Wilf Wild mengakhiri musim dengan keunggulan tiga poin dari Charlton Athletic di posisi kedua, trofi kasta tertinggi Inggris pun akhirnya menuju Maine Road setelah 43 tahun berdirinya klub.

Apakah sebagai juara bertahan selalu optimis menatap musim berikutnya? Pasti. Tapi sesuatu yang langka dan aneh terjadi.

Tanpa perubahan berarti pada skuad, City memulai musim 1937/38 lebih baik dari musim sebelum saat merengkuh juara di mana kala itu hanya menang dua kali di 10 laga perdana musim. Kalah tandang di markas Wolves pada laga pembuka, kita lalu menang dari Everton dan Leicester di kandang. Empat kemenangan dan tiga kekalahan dari delapan laga awal. Tak terlalu buruk.

Hingga akhir Oktober, kemenangan dan kekalahan nampak tak ingin berselisih jauh dengan total enam kemenangan dan lima kekalahan di 13 laga.

Satu momen pendongkrak semangat datang untuk City di awal November, saat tim berhasil menjuarai Charity Shield (kini Community Shield) dengan mengalahkan Sunderland 2-0 di Maine Road.

Namun sepertinya hal itu enggan bertahan lama di tubuh City, berada di peringkat 10 setelah 17 pertandingan, City lalu menelan empat kekalahan beruntun.

Lagi, kompetisi dan turnamen berbeda seperti memberi angin segar bagi para pemain City, mengawali Piala FA musim tersebut dengan menghadapi Millwall, City berhasil lolos setelah menang 3-1 di laga ulangan karena sebelumnya imbang 2-2.

Dan benar saja, termasuk dua kemenangan lainnya di Piala FA atas Bury dan Luton Town, City tak terkalahkan di enam laga terakhirnya dengan lima kemenangn dan satu kali imbang.

Namun entah badai apa yang menghampiri, rentetan hasil positif itu diganjar habis oleh lima kekalahan beruntun, termasuk kekalahan tipis di perempat-final Piala FA dari Aston Villa dalam drama lima gol.

Eric Brook Cs pada dasarnya masih tampil beringas di depan gawang, terlihat dari beberapa kemenangan besar tim. Sebut saja Kemenangan 6-1 atas Derby County di awal musim dan 7-1 di pertemuan kedua musim, sempat menang 4-1 melawan Leicester dan kemenangan besar lain 7-1 atas West Bromwich di mana Brook berhasil mencetak empat gol.

Aktif mencetak gol namun terseok di klasemen, sungguh menjadi kontradiksi.

DAFTAR UNTUK DENGARKAN PODCAST RESMI MAN CITY

Di dua laga terakhir, City menghempaskan Leeds United 6-2 di Maine Road dan naik ke peringkat 16 klasemen (musim tersebut liga terdiri dari 22 tim).

Intensitas pun semakin terasa menjelang pertarungan hidup mati di laga terakhir.

Bertandang ke Huddersfield Town, tim yang sama-sama meraih 36 poin dan berjuang menghindari zona degradasi, City memiliki kesempatan besar dan hasil imbang akan cukup membuat tim bertahan di kasta tertinggi dan membuat fans pulang dengan hati tenang.

Huddersfield mencetak satu gol kemenangan… dan City terdegradasi.

Turun kasta setelah mencetak 80 gol, terbanyak dibanding tim lain di kompetisi, tapi kebobolan 77 gol di sisi gawang yang lain.

Hingga hari ini, kita adalah tim pertama dan satu-satunya dalam sejarah kasta tertinggi Inggris yang pernah terdegradasi setelah menjadi juara di musim sebelumnya.

Inkonsistensi seringkali terasa pahit, tapi kita hidup dalam kenyataan. Merengkuh masa depan adalah jalan keluarnya.

lihat semua partner klub

Mancity.com

31?
loading