Tim Pria

Kisah kapten City yang tak suka the Reds

Kisah kapten City yang tak suka the Reds
Mike Doyle terkenal karena kerap membakar rivalitas jelang derbi Manchester.

Mantan kapten City itu menghabiskan 16 tahun bersama the Blues, membuat 558 penampilan antara tahun 1962 hingga 1978 dan membawa klub menjuarai trofi terakhir sebelum kemenangan Piala FA tahun 2011 atau 35 tahun berselang.

 

Ketidaksukaan Doyle terhadap United telah melegenda, dan para jurnalis selalu diberikan tajuk utama yang pedas menjelang derbi berlangsung. Baik ia dan Mike Summerbee sama-sama suka ‘menyentil’ the Reds dan bisa dibilang mereka berdua melakukannya dengan hebat.

 

Doyle berusia 64 tahun saat ia meninggal pada bulan Juni 2011, tetapi ia mendapatkan satu kebahagiaan yang sudah ia tunggu menjelang ia berpulang untuk selamanya: bahwa ia bukan lagi ‘kapten terakhir yang memimpin City menuju kesuksesan’.

 


                        REMEMBERED : Mike Doyle flag at the Etihad
REMEMBERED : Mike Doyle flag at the Etihad

 

Sebagai penulis dalam biografinya yang berjudul ‘Blue Blood’, saya mengenal Mike dan keluarganya cukup baik selama 18 bulan penyelesaian buku tersebut. Doyle, yang tinggal di Tameside saat itu, menceritakan bagaimana awalnya ia bergabung ke City ketimbang Wolves yang nyaris mengamankan jasanya dengan bantuan klub lokal – sebelum Harry Godwin meyakinkan Doyle muda untuk bermain bagi tim biru langit ketimbang hitam-kuning.

 

Doyle berkembang menjadi pemain City sejati. Tiba-tiba, United menjadi musuh no.1 dan ia menikmati bermain melawan the Reds yang saat itu didominasi oleh City dalam derbi, baik kandang dan tandang.

 

 

Tetapi rasa jijik akan ketidakadlian yang membuat Doyle berbenturan dengan tetangga kita dan menyalakan permusuhan yang berujung kepada perlindungan polisi menjelang bentrok dua tim Mancunian.

 

Doyle dan anggota tim yang menjuarai gelar liga 1967/68 tidak pernah merasa benar-benar mendapatkan pengakuan dari media nasional, dan dalam penerbangan pulang setelah laga semifinal Piala Winners kontra Schalke, kebencian tersebut semakin besar.

 

Doyle mengingat: “Kami kalah pada leg pertama semifinal dengan skor 1-0, tetapi kami bermain bagus. Pada malam yang sama Manchester United juga bertanding, namun bukan pertandingan yang penting dan menentukan gelar juara – itu adalah laga persahabatan, atau testimonial. Ketika kami naik pesawat untuk pulang dari Dusseldorf pagi berikutnya, kami membeli koran dan tajuk utamanya adalah tentang Manchester United, sementara pertandingan kami – laga penting di kompetisi Eropa, hanya mendapatkan kolom kecil di dalam koran. Itu membuat saya marah!

 


                        BLUE BLOOD : Doyle demanded parity in the media
BLUE BLOOD : Doyle demanded parity in the media

“Saya meledak kepada salah satu reporter yang bepergian bersama kami: ‘Ini menggelikan! Berapa lama lagi suporter City akan tahan seperti ini? Saya melanjutkan kemarahan dan saya pikir itu adalah akhirnya. Namun keesokan harinya kemarahan saya mendapatkan respon dari koran-koran, dan sejak saat itu saya selalu disimpulkan membenci Manchester United.

 

Perasaan saya terhadap seluruh bisnis ini telah membuat saya terbawa, tetapi ada banyak kata kasar yang terlontar di momen penuh rasa frustrasi dan saya mengatakannya cukup sering!

“Itu tidak diterima dengan baik oleh sekelompok rakyat di Manchester. Selama beberapa minggu saya siap menerima balas dendam dengan cara mereka. Suatu hari saya pergi ke mobil saya dan menemukan mobil saya sudah peot. Jendela rumah saya dipecahkan, dan saya menerima surat bernada penghinaan. Perlakuan ini saya terima secara terus menerus selama beberapa bulan, kemudian datanglah derbi melawan United. Saya sedang keluar bersama istri saya untuk makan, dan saat kami pulang ke rumah ada dua pria yang berada di dalam rumah. Saya menyuruh istri saya tetap di mobil dan mengunci pintu, saya lalu mengambil senter berat di dalam dasbor mobil, keluar dan bersiap untuk menjemput masalah.

 

“Saat saya berjalan untuk menemui pria tersebut, saya mengenali salah satunya. Ia adalah kepala CID lokal. Ia berkata: ‘Jangan cepat menyimpulkan, jangan panik. Bisakah kita masuk ke dalam?’ Saya bertanya apa yang terjadi, dan saat kami duduk di dalam rumah ia menjelaskan kepada saya. Sebuah surat kabar nasional menerima telpon dari seorang pria yang berkata bahwa untuk keselamatan saya sebaiknya saya tidak bermain di laga derbi di Old Trafford pada Sabtu berikutnya. ‘Atau seseorang akan menembak Anda!’

 

“Ketua CID tersebut jelas menanggapi ancaman ini dengan serius. ‘Kami akan menugaskan petugas berjaga di depan pintu Anda pada malam hari,” katanya. Dan semakin lama saya berbaring di kasur, semakin saya khawatir. Saya terus terjaga dan melihat jendela, dan pemandangan mobil polisi di depan rumah membuat saya berpikir bahwa itu bukan sekedar gurauan. Faktanya, saya mulai berpikir bahwa itu sengaja dilakukan untuk menjatuhkan saya.

 

“Ketika saya pergi ke lapangan latihan, dua petugas polisi menemani saya; mereka ikut kembali dengan saya saat saya pulang. Hal yang sama juga terjadi pada hari Jumat, dan pada hari pertandingan mereka tetap berjaga. Tak terjadi apapun, dan saat pertandingan dimulai saya langsung melupakan ketakutan saya dan konsentrasi kepada pekerjaan.

 

“Namun pada Senin pagi, saya menerima telpon dari polisi bahwa mereka telah menangkap seorang pria satu malam sebelumnya. Pria yang ditangkap ciri-cirinya sama dengan pria yang tertangkap membuat panggilan telpon dari sebuah kotak telpon lokal. Saat polisi ingin menanyainya, ia lari. Salah satu mobil polisi mengejar dan menangkapnya. Polisi memeriksa telpon tersebut, ternyata pria yang ditelpon adalah petugas surat kabar – ternyata tersangka tersebut telah menelpon koran itu untuk kedua kalinya, untuk memperbaharui ancamannya menembak saya. Namun itu adalah akhir dari kasus ini, karena setelah itu saya tidak mendengar apapun dari polisi.

 

“Saya sampai pada titik dimana saya mulai benci terhadap bisnis ini, namun saya harus hidup dengan reaksi yang saya pancing sendiri. Dan saya menemukan diri saya berharap seluruh insiden ini menghilang saat saya menghadiri pembukaan restoran Colin Bell di Prestwich. Joe Mercer ada disana, begitu pula satu atau dua pemain United. Joe merangkul saya dan berkata: ‘Saya ingin Anda bertemu seseorang’…kemudian mengantar saya ke sebuah sudut, disana ada Sir Matt Busby dan istrinya. Itu adalah pertama kalinya saya berbicara dan bertemu dengannya, seketika seluruh ketidak sukaan saya terhadap Manchester United menjadi tak bisa dikatakan.

 

“Saya tak tahu apa yang harus dikatakan atau melihat kemana. Saya merasa kecil. Bos United tersebut berdiri dan menjabat tangan saya. ‘Saya sangat senang bertemu dengan Anda,’ katanya sembari tersenyum. Ia bisa melihat saya gugup dan malu, dan ia memperlihatkan pengertian yang hebat terhadap situasi saya ketika ia merubah isi pembicaraan terkait teman-teman dan bertanya tentang keluarga saya. Ia tidak pernah menyebut United sama sekali. Ketika saya bertemu Joe Mercer kemudian, ia tertawa dengan nakal.

 

Beberapa tahun berselang, kami mengalahkan United di kedua laga derbi – 4-0 di Maine Road dan 4-1 di Old Trafford. Saya belajar dari Sir Matt setelah kemenangan di kandang mereka. Kami menunggu bis tim, dan physiotherapist kami Peter Blakey belum tiba, jadi saya naik ke atas untuk memberitahunya kami siap untuk berangkat – saya berpapasan dengan Sir Matt, yang menyalami saya dan berkata: ‘Penampilan yang bagus…Anda berada di atas kami saat ini…tetapi sepakbola adalah sebuah siklus. Giliran kami akan datang,’ dan tentu – ia benar.”

Dalam penulisan biografi ‘Blue blood’, Mike berbicara dengan bangga tentang Tommy – cucunya dan berharap suatu hari ia bisa bermain untuk City. 

 


                        IN THE BLOOD : Tommy Doyle
IN THE BLOOD : Tommy Doyle

 

Beberapa minggu yang lalu, Tommy menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan City. Warisan darah biru Mike, sepertinya terus hidup.


lihat semua partner klub

Mancity.com

31?
loading